Bank of England memperingatkan potensi penurunan pasar saham global karena harga aset saat ini dinilai tidak mencerminkan risiko ekonomi yang sebenarnya.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Wakil Gubernur Bank of England, Sarah Breeden, di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Breeden menyatakan bahwa meskipun berbagai risiko global masih tinggi, harga aset justru berada pada level tertinggi sepanjang masa.
Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa penyesuaian pasar bisa terjadi kapan saja, meski tidak merinci waktu atau besaran koreksi yang diperkirakan.
Bank of England menilai konflik Iran-AS telah memberikan guncangan besar terhadap ekonomi global, termasuk pelemahan pertumbuhan, kenaikan inflasi, dan biaya pinjaman yang lebih tinggi.
Breeden menekankan risiko utama kini berasal dari sektor kredit swasta yang telah tumbuh pesat hingga mencapai US$2,5 triliun dalam dua dekade terakhir.
Menurutnya, sektor kredit swasta belum pernah diuji dalam skala besar dan memiliki keterhubungan luas dengan sistem keuangan global.
Ia juga mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya beberapa risiko secara bersamaan, seperti guncangan makroekonomi, hilangnya kepercayaan pada kredit swasta, dan volatilitas valuasi teknologi serta kecerdasan buatan.
Konflik Iran-AS semakin memanas setelah Garda Revolusi Iran menembaki kapal berbendera Panama dan Liberia di Selat Hormuz.
Kapal Epaminondas dilaporkan mengalami kerusakan pada anjungan akibat tembakan dan granat berpeluncur roket, meski tidak ada korban jiwa di antara 21 awaknya.
Sementara itu, MSC Francesca juga ditembaki namun tidak mengalami kerusakan dan seluruh awak dinyatakan selamat.
Di sisi lain, Amerika Serikat melaporkan telah mencegat tiga tanker minyak berbendera Iran di wilayah Asia, termasuk supertanker Deep Sea dan Sevin yang membawa minyak mentah.
Supertanker Dorena juga dikawal oleh kapal perusak Angkatan Laut AS setelah dicegat di Samudra Hindia dengan muatan penuh sekitar 2 juta barel minyak mentah.
Insiden ini memperparah ketegangan geopolitik dan berpotensi mengganggu pasokan energi global, yang dapat memicu fluktuasi harga komoditas dan pasar keuangan.
Peringatan Bank of England menjadi sinyal bagi investor untuk lebih waspada menghadapi kombinasi risiko geopolitik, inflasi, dan kompleksitas pasar kredit global.





