Kesenjangan Pembiayaan UMKM Diproyeksikan Capai Rp2.400 Triliun pada 2026

Ardian Santo

April 28, 2026

2
Min Read

Kesenjangan pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diproyeksikan mencapai Rp2.400 triliun pada 2026.

Kebutuhan kredit sektor UMKM diperkirakan sebesar Rp4.300 triliun, sementara kapasitas pendanaan yang tersedia baru mencapai Rp1.900 triliun.

Angka ini menunjukkan masih banyak pelaku usaha kecil yang belum terakses ke sistem keuangan formal meskipun UMKM menjadi penopang utama perekonomian nasional dari segi penyerapan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi daerah.

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menyatakan bahwa pembiayaan inklusif terbukti mendorong pertumbuhan usaha di level akar rumput.

Menurut Sustainability Report Amartha 2025, 89 persen UMKM binaannya mengalami peningkatan pendapatan dengan rata-rata pertumbuhan 63 persen setelah mendapatkan akses modal.

Dampak tersebut telah dirasakan oleh sekitar 2,3 juta dari 3,9 juta UMKM binaan Amartha yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di seluruh Indonesia.

Taufan menekankan bahwa pembiayaan bukan hanya membuka akses modal, tetapi juga menjadi katalis peningkatan kesejahteraan pelaku usaha.

Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menilai penguatan akses pembiayaan menjadi kunci percepatan mobilitas ekonomi masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa ketika akses ke layanan keuangan terbuka, dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada ketahanan rumah tangga dalam menghadapi tekanan ekonomi.

Nailul menambahkan bahwa teknologi finansial turut mendorong inklusi keuangan, terutama bagi masyarakat berpendapatan rendah.

Data menunjukkan negara yang telah mengadopsi teknologi finansial memiliki tingkat inklusi keuangan 41,5 persen lebih tinggi dibandingkan negara yang belum mengadopsinya.

Pinjaman daring dinilai membuka akses luas terhadap layanan keuangan serta mendorong tumbuhnya agen-agen keuangan di wilayah pedesaan.

Mama Redha, seorang nelayan asal Sumba, membagikan pengalamannya menggunakan modal tanpa agunan dari Amartha untuk membuka warung kelontong.

Ia menyebut hasil tangkapan laut yang tidak menentu mendorongnya mencari pendapatan tambahan agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Kini, warung kelontongnya menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarganya.

Related Post