Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.188 per dolar AS pada perdagangan Jumat (17/4/2026).
Mata uang Garuda terkoreksi 50 poin dari posisi sebelumnya di Rp17.138 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi meskipun sentimen global cenderung positif seiring berlakunya gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut bahwa Presiden Donald Trump menyampaikan kemungkinan pertemuan antara AS dan Iran pada akhir pekan sebagai faktor yang turut memengaruhi pasar keuangan.
Dari sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai solid dengan inflasi yang terkendali dan berada dalam kisaran target Bank Indonesia.
Konsumsi rumah tangga juga tetap kuat didukung momentum Ramadan dan Idulfitri.
Neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus, didorong kinerja ekspor komoditas seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).
Namun, tekanan eksternal meningkat memasuki akhir kuartal I-2026 akibat eskalasi konflik antara AS dan Iran yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Harga minyak Brent sempat menembus US$118 per barel dan masih bertahan tinggi setelah perang berlangsung selama tujuh pekan.
Kenaikan harga energi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar dan stabilitas makroekonomi Indonesia.
Pemerintah menegaskan tidak akan menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi untuk menjaga daya beli masyarakat dan menahan laju inflasi.
“Transmisi kenaikan harga energi dijaga agar tidak mendorong inflasi lebih tinggi,” ujar Ibrahim Assuaibi.





