Manulife Aset Manajemen Indonesia menilai kebijakan pemerintah mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah kenaikan harga minyak global penting untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka menengah.
Kebijakan ini tidak hanya bertujuan meredam inflasi, tetapi juga melindungi daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dalam kerangka waktu menengah.
Rizki Ardhi, Senior Portfolio Manager-Equity MAMI, menyatakan bahwa kebijakan tersebut membantu menjaga konsumsi rumah tangga sekaligus memberikan bantalan terhadap tekanan inflasi.
Menurutnya, dua faktor ini menjadi penopang utama dalam menjaga lintasan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap pada jalur yang realistis.
Namun, Rizki mengakui bahwa kebijakan ini berkonsekuensi pada meningkatnya beban subsidi energi yang diperkirakan mencapai Rp103 triliun atau 0,4 persen dari PDB pada 2026.
Angka ini muncul seiring asumsi harga minyak rata-rata tahun ini berada di kisaran 85 dolar AS per barel.
Meskipun demikian, beban tambahan tersebut dinilai masih dapat ditangani melalui efisiensi dan realokasi anggaran yang diproyeksikan mencapai Rp259 triliun.
Dengan demikian, ruang fiskal Indonesia tetap terjaga dan cukup aman untuk mendukung agenda pembangunan jangka menengah.
Rizki menekankan bahwa stabilitas fiskal sangat krusial agar pemerintah bisa mendorong investasi sekaligus memastikan kebijakan energi tidak menghambat aktivitas usaha dan konsumsi.
Ia juga mencatat bahwa secara historis, lonjakan harga minyak cenderung memberi dampak sementara terhadap pasar keuangan, selama tidak berkembang menjadi krisis makroekonomi yang lebih luas.





