Rupiah Menguat ke Rp17.012 per Dolar AS Didorong Gencatan Senjata AS-Iran dan Kinerja Fiskal Positif

Ardian Santo

April 28, 2026

2
Min Read

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat ke level Rp17.012 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 8 April 2026.

Penguatan tersebut menandai perbaikan sebesar 93 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.105 per dolar AS.

Kenaikan nilai tukar rupiah dipicu oleh sentimen positif global usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran.

Trump menyatakan akan menangguhkan aksi militer selama dua minggu setelah tujuan strategis dinilai telah tercapai.

Pengumuman ini disampaikan kurang dari dua jam sebelum batas waktu pukul 20.00 ET yang sebelumnya menjadi ancaman eskalasi konflik besar di kawasan Timur Tengah.

Gencatan senjata ini berhasil dicapai melalui mediasi Pakistan dalam upaya diplomatik mendekati detik-detik terakhir.

Seperti dijelaskan pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, kesepakatan bergantung pada jaminan Iran untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz secara aman.

Selat Hormuz merupakan rute penting bagi sekitar 20 persen aliran minyak mentah global.

Iran juga menyatakan kesediaan bersyarat untuk meredakan ketegangan selama periode gencatan senjata, asalkan tidak ada permusuhan dan kapal-kapal berkoordinasi dengan otoritas Iran.

Dari sisi domestik, penguatan rupiah didukung oleh realisasi pendapatan negara yang positif hingga akhir Maret 2026.

Realisasi pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun, atau tumbuh 10,5 persen year-on-year (yoy).

Jumlah tersebut setara dengan 18,2 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3.150 triliun.

Pertumbuhan ini ditopang oleh kinerja penerimaan perpajakan yang kuat di triwulan I 2026.

Penerimaan pajak tercatat sebesar Rp394,8 triliun, sementara bea cukai dan kepabeanan mencapai Rp67,9 triliun.

Secara total, penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun, naik 14,3 persen secara tahunan.

Pelaku pasar juga masih menantikan rilis data indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Maret 2026 yang dijadwalkan pada Jumat, 10 April 2026.

Data CPI tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi AS.

Related Post