Belanja militer global mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 2025 dengan total pengeluaran sebesar USD 2,89 triliun.
Laporan dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis Selasa (28/4/2026) menunjukkan kenaikan ini terjadi akibat meningkatnya konflik, ketidakpastian keamanan, dan gejolak geopolitik di berbagai kawasan.
Pengeluaran pertahanan dunia telah mengalami peningkatan selama 11 tahun berturut-turut, didorong oleh situasi perang dan ketegangan regional yang mempercepat modernisasi alutsista.
Secara global, belanja militer setara dengan 2,5% dari produk domestik bruto (PDB), level tertinggi sejak 2009.
Eropa menjadi kontributor utama kenaikan global dengan lonjakan anggaran pertahanan sebesar 14% menjadi USD 864 miliar.
Kawasan Asia dan Oseania juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 8,1%, mencapai USD 681 miliar, yang merupakan pertumbuhan tahunan terbesar sejak 2009.
Diego Lopes da Silva, peneliti senior SIPRI, menyatakan bahwa sekutu Amerika Serikat seperti Jepang, Australia, dan Filipina meningkatkan belanja militer karena ketegangan regional dan ketidakpastian dukungan AS.
Jepang sendiri menaikkan anggaran pertahanan sebesar 9,7% menjadi USD 62,2 miliar, level tertinggi sejak 1958, dengan komitmen pemerintah untuk mencapai 2% dari PDB.
Taiwan mencatat lonjakan belanja militer 14% menjadi USD 18,2 miliar atau 2,1% dari PDB, dipicu oleh aktivitas militer China di sekitar Selat Taiwan.
Meski secara global belanja militer meningkat, laju pertumbuhannya melambat menjadi 2,9% pada 2025 dibandingkan 9,7% pada 2024, sebagian karena penurunan anggaran militer Amerika Serikat sebesar 7,5%.
Amerika Serikat tetap menjadi negara dengan anggaran pertahanan terbesar di dunia, yaitu USD 954 miliar, diikuti China dengan estimasi USD 336 miliar.
Nan Tian, Direktur Program SIPRI, menilai penurunan belanja militer AS kemungkinan hanya bersifat sementara dan bisa kembali naik di tahun-tahun mendatang.





