Tingginya adopsi layanan keuangan digital di kalangan mahasiswa belum diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai.
Hal ini membuka celah bagi perilaku konsumtif, lemahnya kontrol keuangan, dan risiko jebakan utang, terutama melalui penggunaan pinjaman online dan paylater.
Peringatan ini disampaikan CEO dan Chief Editor Warta Ekonomi dalam seminar Literasi Keuangan berjudul Cashless, Careless: Jadi Mahasiswa Cerdas Finansial di Era Digital di Binus @Alam Sutera, Tangerang, Selasa (28/4/2026).
Acara yang didukung PT Dupoin Futures, ShopeePay Indonesia, dan Bank Mandiri tersebut bertujuan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan generasi muda.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46%, sementara inklusi keuangan berada di angka 80,51%.
Pada kelompok usia 18–25 tahun, literasi keuangan tercatat 73,22% dan inklusi mencapai 89,96%, menunjukkan kesenjangan antara penggunaan dan pemahaman produk keuangan.
Sekitar 60% generasi muda telah berinvestasi di aset digital, dan hampir 68% aktif menggunakan e-wallet, namun banyak yang belum memahami risiko secara komprehensif.
“Banyak anak muda sudah aktif menggunakan teknologi dan berinvestasi, tetapi belum tentu memiliki pemahaman yang cukup tentang risiko dan cara mengelolanya,” ujar CEO Warta Ekonomi.
Direktur Departemen Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Andi Muhammad Yusuf, menegaskan bahwa digitalisasi mendorong masyarakat cashless, tetapi juga menimbulkan tantangan perlindungan konsumen.
“Orang memakai produk keuangan tapi tidak paham apa yang dipakai. Ini mengandung kerawanan, termasuk meningkatnya pengaduan dan potensi kejahatan keuangan digital,” katanya.
OJK mencatat kerugian akibat kejahatan keuangan digital mencapai Rp9,1 triliun sepanjang November 2024 hingga Januari 2026 berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Center (IASC).
Untuk itu, OJK terus mendorong Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan) secara kolaboratif dengan industri dan institusi pendidikan.
“Literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan, tetapi harus berdampak pada kesejahteraan,” tegasnya.
Direktur Kampus Binus @Alam Sutera, Lim Sanny, menekankan pentingnya edukasi finansial praktis di lingkungan kampus.
“Seiring dengan kemajuan teknologi, transaksi menjadi lebih mudah dan cepat. Namun di balik kenyamanan itu, kita harus tetap bijak dalam mengelola keuangan agar tidak terjebak dalam sikap careless,” ujarnya.
Direktur Utama ShopeePay Indonesia, Eka Nilam Dari, menyebut layanan pembayaran digital kini dilengkapi lapisan keamanan seperti PIN, OTP, dan two-factor authentication (2FA).
“Layanan verifikasi transaksi sudah jadi standar dasar. Ada juga 2FA untuk transaksi yang tidak biasa, guna memastikan keamanan pengguna,” jelasnya.
Direktur CFX, Lukas Lauw, mencatat Indonesia berada di peringkat ketujuh adopsi kripto global, dengan sekitar 52% investor berasal dari usia 18–24 tahun.
“Proporsi yang bertransaksi di aset kripto di usia 18 sampai 24 tahun sekitar 50%. Jadi ini memang didominasi oleh usia mahasiswa,” katanya.
Nilai transaksi kripto tercatat Rp75,8 triliun pada kuartal pertama 2026, menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap pergerakan harga.
Lukas menekankan pentingnya menggunakan platform legal dan diawasi regulator untuk mencegah kerugian akibat penipuan atau kehilangan aset.
“Literasi harus lebih tinggi dari inklusi. Masyarakat tidak hanya menggunakan, tetapi juga harus memahami produk yang digunakan,” tegasnya.
Presiden Direktur Dupoin Futures Indonesia, Gunawan Herman, menambahkan bahwa minat mahasiswa terhadap investasi perlu diimbangi pemahaman instrumen keuangan yang lebih luas, termasuk perdagangan berjangka komoditas.





