Dinamika global, terutama pergerakan harga minyak dan nilai tukar dolar Amerika Serikat, diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia pada 2026.
Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, menyatakan bahwa kedua faktor tersebut menjadi penentu utama terbukanya ruang untuk pelonggaran atau pengetatan kebijakan moneter.
Ia menjelaskan bahwa jika harga minyak turun ke level US$80 per barel atau di bawahnya pada kuartal terakhir 2026 dan dolar AS menunjukkan stabilitas atau pelemahan, Bank Indonesia berpotensi memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Sebaliknya, jika harga minyak bertahan di kisaran US$100 per barel dan dolar AS terus menguat, BI berada dalam dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dalam skenario tersebut, BI mungkin terpaksa menaikkan suku bunga untuk menahan tekanan terhadap rupiah, meskipun hal itu dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik.
Bank Indonesia saat ini mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, mencerminkan fokus pada stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian eksternal.
Pranjul menekankan bahwa penahanan suku bunga bukan satu-satunya instrumen pengetatan, karena BI masih memiliki fleksibilitas dalam pengelolaan likuiditas untuk mendukung perekonomian.
Ia menilai pemerintah dan BI perlu menjaga likuiditas tetap longgar, dengan pertumbuhan uang inti sekitar 10 persen, lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan PDB nominal sekitar 8 persen, sebagai sinyal dukungan terhadap aktivitas ekonomi.
Menurutnya, pertumbuhan uang inti yang melebihi pertumbuhan PDB nominal menunjukkan bahwa sistem keuangan akan terus dibanjiri likuiditas, yang dapat mendorong ekspansi ekonomi.
Perkiraan ini disampaikan Pranjul dalam acara HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook Q2-2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (23/4/2026).





