Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah 0,41 persen menjadi Rp17.105 per dolar AS pada Selasa, 7 April 2026.
Pelemahan ini menyebabkan rupiah keluar dari asumsi dasar nilai tukar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang ditetapkan dalam kisaran Rp16.500 hingga Rp16.900 per dolar AS.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan bahwa kondisi tersebut telah diantisipasi melalui skenario stress test yang disiapkan pemerintah.
“Itu sudah masuk dalam stress test kita,” ujar Juda Agung di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Ia menegaskan bahwa dampak pelemahan nilai tukar terhadap kesehatan fiskal nasional tidak signifikan berkat langkah-langkah mitigasi yang telah dirancang.
Pemerintah memastikan defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) sesuai target APBN 2026.
Kebijakan penahanan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi juga terus diterapkan meskipun harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan tajam.
Lonjakan harga komoditas global justru diperkirakan membawa windfall revenue atau pendapatan tak terduga bagi negara, terutama dari sektor hulu minyak dan gas bumi serta batu bara.
Pendapatan tambahan tersebut akan digunakan untuk membiayai kompensasi atas pembengkakan subsidi energi akibat fluktuasi harga global.
Pemerintah juga memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia guna mengendalikan volatilitas nilai tukar dan menjaga kepercayaan pasar.
Pengawasan terhadap arus modal keluar dilakukan secara intensif untuk mencegah gangguan lebih lanjut terhadap stabilitas keuangan.
Fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil dan melindungi daya beli masyarakat di tengah tekanan eksternal yang berkelanjutan.
Pemerintah optimistis ketahanan fiskal Indonesia cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global pada 2026.
Target pembangunan nasional diyakini tetap dapat tercapai melalui manajemen anggaran yang prudent dan terukur.





