Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di 4,75% untuk Stabilkan Rupiah

Ardian Santo

May 1, 2026

2
Min Read

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

Keputusan ini diambil mengingat penguatan dolar Amerika Serikat dan dampak dari krisis energi yang masih membayangi perekonomian global.

Pranjul Bhandari, Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, menilai kebijakan tersebut tepat jika dilihat dari pendekatan counterfactual, yaitu dengan membandingkan kondisi jika BI memilih memangkas suku bunga.

Menurutnya, jika suku bunga dipangkas, rupiah berpotensi melemah lebih dalam dibanding kondisi saat ini.

Ia menyatakan bahwa keputusan BI untuk tidak mengubah suku bunga acuan merupakan langkah yang benar dalam konteks menjaga kepercayaan pasar.

Stabilitas rupiah tidak hanya ditentukan oleh suku bunga, tetapi juga oleh faktor eksternal seperti neraca transaksi berjalan dan arus modal masuk.

Saat ini, defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat hanya 0,1% terhadap PDB, jauh lebih rendah dari posisi sebelumnya yang mencapai 2,5%.

Namun, tekanan dari krisis energi global berpotensi mendorong defisit tersebut naik hingga mendekati 1% dari PDB.

Meski angka tersebut masih tergolong rendah, yang terpenting bagi Indonesia adalah kemampuan menarik aliran modal masuk yang cukup untuk membiayai defisit tersebut.

Aliran modal yang menjadi perhatian meliputi investasi jangka pendek di pasar keuangan dan investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI).

Pranjul mencatat bahwa arus FDI saat ini cenderung melemah akibat ketidakpastian ekonomi global yang tinggi.

Persaingan antar negara berkembang untuk menarik investasi pun semakin ketat di tengah kondisi tersebut.

Ia memperkirakan tahun 2026 akan menjadi tahun yang menantang bagi aliran FDI secara global.

Pranjul menambahkan bahwa jika krisis energi mulai mereda dan dolar AS mulai melemah di masa depan, hal tersebut dapat menjadi katalis positif bagi penguatan rupiah.

Dengan demikian, pemulihan kondisi global akan memberikan dukungan tambahan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.

Related Post