BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,75% Jaga Rupiah di Tengah Tekanan Global

Ardian Santo

April 27, 2026

2
Min Read

Bank Indonesia (BI) secara resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%.

Langkah strategis ini diambil sebagai upaya esensial untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Keputusan tersebut merespons tekanan kuat dari kondisi ekonomi global, termasuk penguatan signifikan dolar Amerika Serikat dan dampak berkelanjutan dari krisis energi.

Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, memberikan penilaian positif terhadap kebijakan BI.

Menurutnya, kebijakan ini sangat tepat jika ditinjau dari pendekatan counterfactual, yaitu membandingkan kondisi jika BI mengambil langkah yang berbeda.

“Seandainya BI memangkas suku bunga kemarin, mata uang akan lebih lemah hari ini, bukan?” ujar Bhandari dalam HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026, Kamis (23/4/2026).

Ia melanjutkan, “Jadi, dari perspektif itu, penting bagi BI untuk setidaknya menjaga suku bunga BI tidak berubah kemarin. Jadi, dari perspektif itu, saya yakin BI telah melakukan hal yang benar.”

Meskipun demikian, stabilitas rupiah tidak hanya ditentukan oleh suku bunga internal.

Faktor eksternal seperti neraca transaksi berjalan dan arus modal masuk juga memiliki peran krusial.

Defisit transaksi berjalan Indonesia saat ini tercatat relatif rendah, yakni 0,1% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dari posisi sebelumnya yang mencapai 2,5%.

Namun, tekanan dari sektor energi global berpotensi mendorong defisit tersebut naik hingga mendekati 1% dari PDB.

Pranjul menekankan, “Bahkan 1% dari PDB tidaklah sangat lebar.”

Ia menambahkan, “Yang penting bagi Indonesia adalah mampu menarik aliran modal masuk yang cukup banyak untuk mendanai defisit transaksi berjalan.”

Aliran modal yang menjadi perhatian utama terdiri dari investasi jangka pendek di pasar keuangan serta investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) yang bersifat jangka panjang.

Dalam kondisi saat ini, arus FDI cenderung melemah, menyebabkan persaingan antar negara berkembang untuk menarik investasi semakin ketat.

“Ini akan menjadi tahun yang sulit karena umumnya di tahun-tahun ketika ada begitu banyak ketidakpastian ekonomi, FDI tidak sangat kuat di mana pun di dunia,” jelas Bhandari.

Apabila krisis energi mulai mereda dan dolar AS melemah di masa mendatang, hal tersebut dapat menjadi katalis positif bagi rupiah.

“Jika pada suatu titik krisis energi mulai berakhir, mendekati resolusi, dan jika dolar mulai melemah sedikit, itu juga akan memberikan dukungan bagi rupiah,” pungkasnya.

Related Post