Harga Emas Global Turun di Tengah Eskalasi Konflik Iran-AS, Dipicu Aksi Jual untuk Likuiditas

Ardian Santo

May 1, 2026

2
Min Read

Harga emas global mengalami penurunan pada April 2026 meskipun terjadi eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Penurunan ini dipicu oleh aksi jual cadangan emas oleh sejumlah negara yang membutuhkan likuiditas besar dalam jangka pendek.

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, harga emas berada di kisaran US$4.800 per troy ons, setelah sempat menembus level US$5.000 per troy ons pada awal tahun.

Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Yazid Kanca Surya menyatakan bahwa penurunan harga emas bersifat sementara dan tidak mencerminkan perubahan tren fundamental jangka panjang.

Menurut Yazid, dalam kondisi perang dan ketidakpastian global, beberapa negara melepas cadangan emasnya untuk memenuhi kebutuhan cashflow jangka pendek.

“Terjadi penurunan emas di saat perang makin meningkat, itu karena ada kebutuhan negara-negara ini memiliki cashflow dalam jumlah besar, sehingga emasnya dijual, emasnya pun harganya turun,” ujar Yazid di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Ia menekankan bahwa volatilitas harga emas saat ini lebih didorong oleh faktor likuiditas dan respons jangka pendek pelaku pasar terhadap gejolak global.

Yazid mengingatkan investor untuk tidak bertransaksi emas dengan orientasi jangka pendek, terutama di tengah kondisi pasar yang sangat fluktuatif.

“Kalau memang menginvestasi emas itu dalam jangka panjang sudah pasti menang,” katanya.

Ia juga menyoroti risiko tinggi di pasar berjangka, yang memerlukan manajemen risiko dan keuangan yang lebih ketat.

“Banyak orang kalah bukan karena market, tapi karena tidak punya money management,” tegas Yazid.

Emas tetap menjadi instrumen lindung nilai di tengah krisis, meskipun pergerakannya bisa sangat tajam dalam jangka pendek.

Investor disarankan untuk melakukan akumulasi bertahap saat harga turun, bukan spekulasi jangka pendek.

Related Post