Kesenjangan Pembiayaan UMKM Diproyeksikan Capai Rp2.400 Triliun pada 2026

Ardian Santo

May 1, 2026

2
Min Read

Kesenjangan pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diproyeksikan masih mencapai Rp2.400 triliun pada 2026.

Kebutuhan kredit sektor UMKM diperkirakan mencapai Rp4.300 triliun, sementara kapasitas pendanaan yang tersedia baru sekitar Rp1.900 triliun.

Proyeksi ini menunjukkan masih banyak pelaku UMKM yang belum terjangkau oleh sistem keuangan formal, meskipun mereka menjadi tulang punggung perekonomian nasional dari sisi penyerapan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi daerah.

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menyatakan bahwa pembiayaan yang tepat sasaran terbukti mendorong pertumbuhan usaha di level akar rumput.

Menurut Sustainability Report Amartha tahun 2025, 89 persen UMKM binaan Amartha mengalami peningkatan pendapatan dengan rata-rata pertumbuhan 63 persen setelah mendapatkan akses pembiayaan.

Dampak tersebut telah dirasakan oleh sekitar 2,3 juta dari 3,9 juta UMKM binaan Amartha yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di seluruh Indonesia.

Andi Taufan menekankan bahwa pembiayaan inklusif tidak hanya membuka akses modal, tetapi juga menjadi katalis bagi pelaku usaha untuk bertumbuh dan meningkatkan kesejahteraan.

Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menilai penguatan akses pembiayaan menjadi kunci percepatan mobilitas ekonomi masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa ketika akses ke sistem keuangan formal terbuka, dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada ketahanan rumah tangga dalam menghadapi tekanan ekonomi.

Nailul menambahkan bahwa kehadiran teknologi finansial, termasuk pinjaman daring, telah mendorong peningkatan inklusi keuangan, terutama bagi masyarakat 40 persen termiskin.

Negara yang telah mengadopsi teknologi finansial memiliki tingkat inklusi keuangan 41,5 persen lebih tinggi dibandingkan negara yang belum mengadopsi.

Pinjaman daring juga mendorong tumbuhnya ekosistem keuangan di desa, termasuk munculnya agen-agen produk keuangan yang memperluas akses layanan.

Mama Redha, seorang nelayan dari Sumba, membagikan pengalamannya menggunakan modal tanpa agunan dari Amartha untuk membuka warung kelontong.

Ia menyatakan bahwa hasil tangkapan laut yang tidak menentu mendorongnya mencari pendapatan tambahan agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Kini, warung kelontong tersebut menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarganya.

Related Post