Marie Elka Pangestu: Perkuat Peran Perempuan untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Ardian Santo

May 1, 2026

3
Min Read

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Marie Elka Pangestu menegaskan bahwa peningkatan peran perempuan di dunia kerja bukan hanya soal kesetaraan.

Menurutnya, keterlibatan perempuan secara aktif dalam sektor ekonomi terbukti berdampak langsung terhadap kinerja bisnis dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Marie dalam diskusi tentang peran perempuan di berbagai sektor industri pada Top Woman Fest 2026, acara yang diselenggarakan oleh CNBC Indonesia pada Sabtu lalu.

Ia menilai meskipun telah terjadi kemajuan dibanding masa R.A. Kartini, tantangan yang dihadapi perempuan dalam mencapai posisi kepemimpinan masih sangat besar.

Marie yang memiliki pengalaman karier lebih dari empat dekade menyebutkan bahwa data menunjukkan perusahaan dengan kepemimpinan yang lebih beragam, termasuk keterlibatan perempuan, cenderung mencatatkan kinerja yang lebih baik.

Menurutnya, investasi pada perempuan merupakan langkah ekonomi dan bisnis yang cerdas.

Ia mengutip pernyataan bahwa ‘investing in women is good economics and good business’ dalam acara yang berlangsung pada Kamis (20/4/2026).

Secara empiris, perusahaan dengan representasi perempuan di level direksi menunjukkan profit yang lebih tinggi.

Perusahaan tersebut juga mencatat tingkat kepatuhan dan keselamatan kerja yang lebih baik.

Selain itu, mereka memiliki orientasi jangka panjang yang lebih kuat dibanding perusahaan tanpa keterwakilan perempuan di posisi strategis.

Marie menjelaskan bahwa perempuan dalam posisi kepemimpinan cenderung tidak hanya fokus pada keuntungan jangka pendek.

Mereka juga memperhatikan keberlanjutan bisnis, riset, serta pengembangan inovasi.

Meskipun demikian, data di Indonesia menunjukkan bahwa partisipasi perempuan di level pimpinan masih sangat rendah.

Marie mengungkapkan bahwa hanya sekitar 4% CEO di perusahaan yang tercatat di bursa efek merupakan perempuan.

Bahkan, hampir separuh perusahaan di Indonesia tidak memiliki perempuan di posisi kepemimpinan.

Tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan kerja juga baru mencapai sekitar 56%, jauh di bawah laki-laki yang mencapai sekitar 85%.

Hal ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya manusia perempuan belum dimanfaatkan secara optimal dalam perekonomian nasional.

Marie memaparkan ada empat hambatan utama yang membuat perempuan sulit mencapai posisi puncak dalam karier.

Pertama adalah beban care economy, di mana perempuan masih menanggung tanggung jawab besar dalam mengurus keluarga dan pekerjaan domestik.

Perempuan rata-rata menghabiskan lebih dari 13 jam per hari untuk tugas domestik, jauh lebih tinggi dibanding laki-laki.

Kedua adalah keterbatasan akses terhadap mentor dan sponsor.

Menurut Marie, perempuan tidak hanya membutuhkan mentor, tetapi juga sponsor yang aktif mendorong mereka naik ke posisi lebih tinggi.

Ketiga adalah terbatasnya pipeline kepemimpinan, di mana perempuan belum banyak dipersiapkan sejak level menengah untuk naik ke posisi strategis.

Keempat adalah norma budaya yang masih memengaruhi persepsi terhadap peran perempuan di dunia kerja.

Marie juga menyoroti tantangan di era digital yang kian berkembang.

Ia menilai perempuan cenderung masih kurang percaya diri dalam memanfaatkan teknologi.

Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus dalam peningkatan kapasitas digital bagi perempuan.

Perusahaan diharapkan dapat menyediakan dukungan terhadap kebutuhan perempuan, termasuk kebijakan kerja yang fleksibel dan program pengembangan karier.

Sementara itu, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mendorong terciptanya ekosistem kerja yang lebih inklusif.

Marie menekankan bahwa pertanyaan tentang solusi atas keempat hambatan tersebut bisa ditujukan kepada masing-masing pihak terkait.

Namun intinya, semua pihak harus berperan, termasuk dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat.

Ia menambahkan bahwa keluarga dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam mendukung keterlibatan perempuan di dunia kerja.

Memperkuat peran perempuan bukan hanya soal keadilan atau kesetaraan sosial.

Menurut Marie, ini merupakan strategi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di masa depan.

Related Post