Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan melemah hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar AS selama April 2026.
Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama kebuntuan dalam perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Pakistan.
Kondisi tersebut berpotensi memicu konflik di kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa jika konflik pecah di Selat Hormuz, rupiah berpotensi melanjutkan pelemahannya hingga ke level Rp17.400 per dolar AS.
Sebelumnya, level tersebut diperkirakan baru terjadi pada akhir tahun, namun tekanan global mempercepat proyeksi pelemahan rupiah.
Ibrahim menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah.
Indeks dolar AS naik dari 98,6 menjadi sekitar 99,1 menyusul kabar kegagalan diplomasi antara AS dan Iran.
Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga menembus US$104 per barel dan berpotensi naik ke kisaran US$115–US$116 jika ketegangan terus memburuk.
Lonjakan harga minyak berdampak langsung pada Indonesia sebagai negara importir energi, yang membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk membiayai impor minyak.
Kebutuhan dolar AS yang meningkat turut memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Ibrahim menegaskan bahwa pemerintah harus mengambil langkah konkret untuk menghadapi situasi ini, bukan hanya secara teori tetapi juga secara teknis.
Saat ini, posisi rupiah telah berada di atas Rp17.000, jauh dari asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mematok nilai tukar di kisaran Rp16.500 per dolar AS.
Pelemahan rupiah berpotensi menekan keseimbangan fiskal dan memaksa pemerintah untuk menyesuaikan asumsi dalam APBN.
Sebelumnya, cadangan devisa Indonesia turun menjadi 148,2 miliar dolar AS pada Maret 2026, sebagian karena intervensi bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar.





