Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (10/4/2026).
Rupiah berada di level Rp17.104 per dolar AS, turun 14 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.092 per dolar AS.
Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul rapuhnya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa gencatan senjata yang sempat disepakati selama dua minggu dan dimediasi oleh Pakistan ternyata tidak mampu menghentikan pertempuran sepenuhnya.
“Iran dan AS sempat menyepakati gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi Pakistan, namun pertempuran masih berlangsung setelah pengumuman tersebut,” ujar Ibrahim.
Kompleksitas situasi bertambah setelah Iran berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi jalur perairan strategis sebagai bagian dari skema perdamaian, sebuah gagasan yang ditolak oleh negara-negara Barat dan badan pelayaran di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Jalur distribusi minyak dan gas global terganggu sejak konflik memanas pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran.
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari proyeksi perlambatan ekonomi kawasan oleh Asian Development Bank (ADB), yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia dan Pasifik melambat menjadi 5,1 persen pada 2026 dan 2027.
Meski demikian, ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat menjadi 5,2 persen pada 2026 dan 2027, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya sebesar 5,1 persen.
Namun, prospek tersebut berpotensi terganggu jika konflik di Timur Tengah berkepanjangan dan semakin memburuk.
“Kondisi ini dipengaruhi konflik di Timur Tengah serta ketidakpastian perdagangan global yang berlanjut, sehingga menciptakan lingkungan yang penuh tantangan,” jelas Ibrahim.





