Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis ke level Rp17.105 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/4/2026).
Pelemahan satu poin dari posisi sebelumnya di Rp17.104 dipicu oleh ketegangan geopolitik global, khususnya setelah Komando Pusat AS mengumumkan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran.
Blokade tersebut mulai berlaku pada pukul 14.00 GMT, mencakup semua kapal dari negara mana pun yang menuju atau meninggalkan wilayah pesisir Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Pasukan AS menyatakan tidak akan mengganggu navigasi kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan non-Iran, namun Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa kapal militer asing yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan ditindak tegas.
Di sisi domestik, Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2026, lebih tinggi dari realisasi 2025 sebesar 5,1 persen, tetapi masih di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.
Proyeksi ADB tersebut dinilai masih dalam koridor inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen, meski lembaga itu mengingatkan adanya risiko dari fluktuasi harga energi dan kebijakan moneter AS yang tetap ketat dalam jangka panjang (higher for longer).
Kebijakan moneter AS yang longgar berpotensi memicu volatilitas aliran modal di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
ADB menyarankan pemerintah untuk mempercepat reformasi struktural guna meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional agar stabilitas ekonomi makro tetap terjaga di tengah tekanan eksternal.





