Rupiah Melemah ke Rp17.127 per USD Dipicu Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan Global

Ardian Santo

April 28, 2026

2
Min Read

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di level Rp17.127 per USD pada perdagangan Selasa (14/4/2026).

Pelemahan ini menandai penurunan 22 poin dari posisi sebelumnya di Rp17.105 per USD.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah dipicu oleh sikap wait and see pelaku usaha akibat meningkatnya ketidakpastian global.

Ketegangan geopolitik, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah dan mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat dengan Iran, menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar.

Militer AS dikabarkan berencana memblokade Selat Hormuz, yang kemudian diperluas hingga Teluk Oman dan Laut Arab, memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Data pelacakan kapal menunjukkan dua kapal telah berbalik arah saat blokade mulai diberlakukan, menambah volatilitas di pasar komoditas dan keuangan.

Sebagai respons, Iran mengancam akan menargetkan pelabuhan di negara-negara yang berbatasan dengan Teluk Persia jika blokade berlanjut.

Meski demikian, upaya diplomasi masih berlangsung, dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif memimpin inisiatif untuk meredakan ketegangan usai pembicaraan di Islamabad.

Trump menyatakan pada Senin (13/4/2026) bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan, meskipun sumber yang mengetahui proses negosiasi menyebut pembahasan masih berjalan secara intensif.

Ibrahim menilai pelaku usaha kini cenderung menunda ekspansi besar yang padat modal dan beralih ke strategi efisiensi serta optimalisasi operasional.

Investasi mulai dialihkan ke sektor yang lebih resilien seperti pangan, energi, dan digital untuk mengantisipasi risiko makroekonomi.

Faktor lain yang memengaruhi keputusan bisnis adalah volatilitas harga energi, biaya logistik tinggi, tekanan nilai tukar, permintaan global yang melemah, dan suku bunga pembiayaan yang relatif tinggi.

Situasi ini berdampak langsung pada perhitungan risiko dan imbal hasil investasi di tengah ketidakpastian global.

Kinerja penjualan secara umum masih stagnan dalam jangka pendek, namun berpotensi membaik pada semester II tahun 2026 jika tidak terjadi eskalasi lebih lanjut.

Konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, meskipun daya beli masyarakat perlu dijaga melalui kebijakan sosial yang tepat.

Ibrahim menekankan pentingnya kepastian dan stabilitas kebijakan, termasuk konsistensi kebijakan moneter dan fiskal, insentif bagi investor, serta kemudahan dalam perizinan dan logistik.

Deregulasi di sektor riil dan percepatan belanja pemerintah dinilai krusial untuk mendukung daya saing dan mendorong ekspansi ekonomi.

Related Post