Rupiah Menguat ke Rp17.012 per Dolar AS Didorong Gencatan Senjata AS-Iran dan Kinerja Fiskal Positif

Ardian Santo

May 1, 2026

2
Min Read

Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp17.012 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu 8 April 2026.

Mata uang Garuda menguat 93 poin dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.105 per dolar AS.

Penguatan rupiah dipicu oleh sentimen positif global terkait pengumuman gencatan senjata oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran.

Trump menyatakan akan menunda aksi militer selama dua minggu setelah tujuan strategisnya dinilai tercapai.

Pengumuman tersebut disampaikan kurang dari dua jam sebelum batas waktu pukul 20.00 ET, yang sebelumnya menjadi kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik besar.

Gencatan senjata ini diupayakan melalui diplomasi intensif yang ditengahi oleh Pakistan.

Syarat utamanya adalah Iran membuka kembali jalur Selat Hormuz secara aman, yang menjadi jalur distribusi bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Iran juga menyatakan kesediaan bersyarat untuk meredakan ketegangan selama periode gencatan senjata, dengan syarat permusuhan dihentikan dan kapal-kapal berkoordinasi dengan otoritas Iran.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan rilis data indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Maret 2026 yang dijadwalkan pada Jumat mendatang.

Data CPI tersebut penting untuk menilai dampak lonjakan harga energi terhadap tingkat inflasi AS.

Dari dalam negeri, penguatan rupiah didukung oleh kinerja fiskal yang positif hingga akhir Maret 2026.

Realisasi pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun, tumbuh 10,5 persen secara tahunan (year-on-year).

Capaian tersebut setara dengan 18,2 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp3.150 triliun.

Pertumbuhan pendapatan negara ditopang oleh kinerja penerimaan perpajakan yang kuat di triwulan I 2026.

Penerimaan perpajakan secara total mencapai Rp462,7 triliun, tumbuh 14,3 persen (yoy).

Rincian penerimaan tersebut terdiri dari pajak sebesar Rp394,8 triliun dan penerimaan kepabeanan serta cukai sebesar Rp67,9 triliun.

Tren realisasi penerimaan bulanan menunjukkan peningkatan sejak awal tahun 2026.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai kombinasi faktor eksternal dan internal ini memberikan ruang bagi rupiah untuk terus stabil dalam jangka pendek.

Related Post