Tiga perusahaan tekstil terintegrasi secara resmi memulai pembangunan pabrik manufaktur vertikal di Subang Smartpolitan, Jawa Barat, dengan total investasi mencapai USD 60 juta.
Proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan momentum Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) guna membuka peluang ekspor lebih luas ke pasar Eropa melalui skema tarif nol persen.
Pembangunan fasilitas manufaktur ini secara signifikan akan memperkuat daya saing industri tekstil Indonesia di kancah global.
Investasi besar ini melibatkan tiga entitas utama: PT Binkova Textiles Indonesia yang berfokus pada proses dyeing dan finishing, PT Dafei Textile Indonesia untuk produksi kain (weaving dan knitting), serta PT Serendipity Fashion Indonesia sebagai produsen garmen.
Direktur PT Binkova Textiles Indonesia, Sun Jianjun, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas ini merupakan strategi krusial untuk memperkuat posisi mereka sebagai pemasok global yang kompetitif.
“Keputusan kami untuk membangun fasilitas manufaktur vertikal di Indonesia adalah langkah strategis untuk memperkuat posisi kami sebagai pemasok global yang kompetitif,” jelas Sun Jianjun, dikutip Senin (27/4/2026).
Ia menambahkan, perusahaan berkomitmen menghadirkan teknologi manufaktur modern guna memastikan efisiensi operasional dan ketelusuran produk yang selaras dengan standar keberlanjutan internasional serta persyaratan perdagangan global.
Konsep manufaktur vertikal memungkinkan seluruh proses produksi, mulai dari bahan baku hingga produk jadi, dilakukan dalam satu kawasan terpadu.
Model ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi secara drastis serta memperkuat daya saing industri tekstil nasional.
Proyek ini juga diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 3.000 hingga 3.800 tenaga kerja lokal, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Chief Commercial Officer Subang Smartpolitan, Abednego Purnomo, menuturkan bahwa investasi ini akan membawa dampak ekonomi yang luas.
“Kami sangat bangga menjadi rumah bagi investasi besar ini,” kata Abednego Purnomo.
Ia melanjutkan, masuknya manufaktur vertikal yang mencakup Tier 1 hingga Tier 2 membuktikan bahwa ekosistem di Subang Smartpolitan mampu menjawab kebutuhan investor akan efisiensi biaya logistik dan standar ESG yang ketat.
Fasilitas ini ditargetkan rampung pada akhir 2026 dan akan langsung dioperasikan secara penuh untuk memenuhi kebutuhan pasar global.
Keberadaan rantai pasok vertikal ini juga memenuhi aturan two-stage process dalam IEU-CEPA, memungkinkan produk tekstil Indonesia masuk pasar Eropa dengan tarif nol persen.
Dukungan penuh juga datang dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi Industri (BKPM), dengan Direktur Promosi Investasi kawasan ASEAN, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik, Saribua Siahaan, yang berharap investasi ini mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Perwakilan H&M, Budiasti Wulansari, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus berkembang bersama Indonesia melalui peningkatan kapasitas produksi dan standar keberlanjutan.
Dengan dukungan infrastruktur seperti Tol Cipali dan kedekatan dengan Pelabuhan Patimban, Subang Smartpolitan dinilai sebagai lokasi strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri fesyen global.





