PHE Luncurkan Skema KSOT untuk Optimalkan Produksi Migas Nasional

Ardian Santo

April 28, 2026

3
Min Read

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menggelar sosialisasi konsep Kerja Sama Operasi dan/atau Teknologi (KSOT) sebagai strategi peningkatan produksi migas nasional dan penguatan ketahanan energi Indonesia.

Kegiatan tersebut berlangsung di Jakarta pada Jumat, 24 April 2026.

Sosialisasi ini melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Kementerian ESDM, SKK Migas, dan calon mitra kerja sama.

KSOT bertujuan mengoptimalkan potensi struktur idle dan undeveloped discovery melalui kolaborasi dengan mitra operasi dan penyedia teknologi.

Inisiatif ini didukung oleh Permen ESDM No. 14 Tahun 2025 dan PTK SKK Migas No. 23 Tahun 2025 sebagai landasan regulasi.

Sebagai langkah awal, PHE membuka kerja sama pengelolaan sumur idle dan menandatangani Perjanjian Kerja Sama Idle Wells Batch 1 serta Confidentiality Agreement untuk Batch 1 dan Batch 2.

Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, menyatakan bahwa KSOT menjadi instrumen penting dalam mendorong kemandirian energi nasional.

Ia mengajak para mitra dan penyedia teknologi untuk berpartisipasi aktif dalam peluang kerja sama ini.

Awang menekankan bahwa seluruh proses bisnis harus mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan menjadikan aspek HSSE sebagai prioritas utama.

Tidak ada kepentingan bisnis yang boleh mengorbankan keselamatan, keamanan, dan lingkungan, tegasnya.

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero), Emma Sri Martini, menyatakan bahwa setiap barel produksi sangat berarti bagi ketahanan energi nasional.

Menurutnya, situasi geopolitik global saat ini memperkuat urgensi optimalisasi sumber daya migas domestik.

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochammad Iriawan, menilai tantangan utama bukan pada ketersediaan sumber daya, tetapi pada kemampuan mengonversi potensi menjadi produksi nyata.

Ia menegaskan bahwa produksi harus sejalan dengan komitmen terhadap keselamatan, keamanan, dan perlindungan lingkungan.

Dirjen Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa HSSE harus menjadi fondasi utama dalam setiap upaya peningkatan produksi.

Ia mengapresiasi sosialisasi ini sebagai bagian dari implementasi efektif Permen ESDM No. 14/2025.

Komisaris PHE, Nanang Untung, mengingatkan bahwa risiko keselamatan tetap tinggi meskipun skala proyek lebih kecil.

Ia menekankan pentingnya manajemen risiko dalam setiap operasi hulu migas.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menegaskan bahwa keselamatan adalah prioritas utama dan membutuhkan tanggung jawab bersama seluruh pihak.

PHE juga mengumumkan rencana pembukaan kerja sama pengelolaan 31 struktur idle dan undeveloped discovery di Regional 1 hingga Regional 4.

Struktur tersebut akan ditawarkan dalam dua batch penawaran kepada calon mitra.

Melalui sosialisasi ini, PHE berharap calon mitra dapat memahami secara komprehensif konsep KSOT dan peran HSSE di dalamnya.

Kolaborasi yang terjalin diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi migas nasional.

PHE berkomitmen menjalankan operasi hulu migas sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Perusahaan juga menerapkan Zero Tolerance on Bribery melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berstandar ISO 37001:2016.

Related Post