Indonesia memiliki peluang strategis untuk mendirikan Pusat Keuangan Indonesia (IFC) di Bali sebagai platform penghubung antara modal global dan pembangunan ekonomi nasional.
Inisiatif ini dipandang bukan sekadar langkah finansial, melainkan transformasi struktural dalam cara Indonesia menarik dan mengalokasikan investasi asing jangka panjang.
Teguh Anantawikrama, Founder and Chairman Indonesian Tourism Investor Club serta Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia, menyampaikan gagasan tersebut pada 27 April 2026 sebagai respons terhadap dinamika ekonomi global yang terus berubah.
Dalam era di mana modal lebih loyal pada kepercayaan, stabilitas, dan peluang ketimbang batas geografis, investor seperti family office mencari yurisdiksi yang menawarkan kepastian hukum dan makna ekonomi jangka panjang.
Menurut Teguh, Indonesia memiliki potensi besar namun belum memiliki platform khusus yang mampu menyerap dan menyalurkan modal tersebut secara efektif.
Oleh karena itu, IFC di Bali dirancang bukan sebagai pusat perpajakan atau tax haven, melainkan sebagai ‘platform kepercayaan’ berbasis institusi yang kredibel, tata kelola transparan, dan kerangka hukum yang jelas.
Bali dipilih karena kombinasi uniknya antara daya tarik gaya hidup global, kedalaman budaya, dan kedekatan dengan ekonomi berkembang terbesar di Asia Tenggara.
Kunci keberhasilan IFC tidak hanya pada penarikan modal, tetapi pada bagaimana modal tersebut dideploy ke sektor riil seperti infrastruktur pariwisata, UMKM, energi terbarukan, dan ekonomi digital.
Satu contoh visi adalah memungkinkan sebuah family office yang berbasis di Bali berinvestasi secara langsung di proyek pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo atau pembiayaan usaha mikro di Jawa.
Model ini bukan hanya intermediasi keuangan, tetapi bentuk pembangunan bangsa melalui alokasi modal yang bermakna.
Namun, pengembangan IFC harus dilakukan dengan menjaga keseimbangan, mengingat Bali bukan ruang kosong, melainkan ekosistem hidup yang rentan secara budaya, sosial, dan lingkungan.
Oleh sebab itu, tata kelola tidak hanya mencakup aspek keuangan, tetapi juga perlindungan lingkungan dan pelestarian budaya.
Teguh menekankan bahwa Indonesia kini berada di persimpangan: bisa terus bergantung pada pusat keuangan luar negeri atau membangun platform sendiri sesuai nilai dan kebutuhan nasional.
Jika dirancang dengan benar, IFC di Bali dapat mengubah posisi Indonesia dari destinasi konsumsi menjadi pusat kreasi nilai ekonomi global.
Bali selama ini menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia, kini saatnya memperluas fungsi itu dari pariwisata menuju keuangan, dari pengalaman menuju investasi, dan dari kehadiran menjadi kemitraan strategis.





