Korea Utara dan Rusia Perkuat Kerja Sama Militer Jangka Panjang hingga 2031

Ardian Santo

April 28, 2026

2
Min Read

Korea Utara menyatakan akan terus memperkuat kerja sama strategis dengan Rusia, termasuk dalam bidang militer, meskipun konflik di Ukraina masih berlangsung.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sebagai bentuk dukungan penuh terhadap kebijakan Moskow dalam perang melawan Ukraina.

Kim Jong Un menegaskan bahwa pemerintahnya akan sepenuhnya mendukung upaya Rusia dalam mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasionalnya.

Ia juga menyebut operasi militer bersama berhasil menggagalkan petualangan militer dan hegemoni Amerika Serikat di kawasan.

Dilaporkan, Korea Utara telah mengirim sekitar 14.000 tentara untuk membantu Rusia di wilayah Kursk, dengan korban tewas mencapai 6.000 personel.

Sebagai imbalan, Pyongyang menerima bantuan teknologi militer canggih serta dukungan ekonomi dari Moskow.

Kim Jong Un mengangkat para tentara yang gugur sebagai simbol pengorbanan nasional, dengan pembangunan monumen dan penyelenggaraan acara kenegaraan.

“Arwah para pahlawan akan hidup selamanya dengan kehormatan besar yang mereka pertahankan,” ujar Kim Jong Un.

Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov hadir dalam peresmian monumen bagi tentara Korea Utara di Kursk dan menyatakan komitmen kedua negara untuk kerja sama militer jangka panjang.

Kedua negara telah menyepakati rencana kerja sama militer yang akan berlangsung hingga periode 2027–2031.

Hubungan bilateral diperkuat melalui perjanjian Comprehensive Strategic Partnership Treaty yang ditandatangani pada 2024, yang mencakup klausul pertahanan bersama.

Menurut analis Eastern Studies dari Kyungnam University, Profesor Lim Eul-chul, langkah ini menunjukkan arah evolusi hubungan menjadi kemitraan strategis yang lebih terstruktur dan permanen.

Penguatan aliansi antara Korea Utara dan Rusia dinilai berpotensi mengubah dinamika geopolitik global, terutama dalam konteks konflik Ukraina dan ketegangan dengan Barat.

Para pengamat memperkirakan poros baru politik global akan semakin terbentuk dengan adanya integrasi militer dan teknologi antarnegara yang terasing dari tatanan internasional Barat.

Related Post