Iran Bantah Klaim AS soal Perpecahan Internal, Tekankan Persatuan Nasional di Tengah Ketegangan Diplomatik

Ardian Santo

April 28, 2026

2
Min Read

Iran membantah klaim Amerika Serikat bahwa negara tersebut mengalami perpecahan internal antara kelompok garis keras dan moderat.

Pernyataan ini disampaikan menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut adanya kekacauan dalam kepemimpinan Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat bersatu di bawah satu identitas nasional sebagai bangsa revolusioner.

Tidak ada perpecahan politik internal seperti yang diklaim Washington, melainkan hanya ada satu golongan: rakyat Iran.

Kita semua adalah satu dan revolusioner dari Iran, tegas Pezeshkian, menekankan komitmen terhadap persatuan nasional serta ketaatan kepada pemimpin tertinggi.

Dia juga menyatakan bahwa Iran tidak akan menerima negosiasi yang dipaksakan oleh pihak luar.

Amerika Serikat harus terlebih dahulu mencabut hambatan operasional, termasuk blokade terhadap pelabuhan Iran, sebelum pembicaraan dapat dilanjutkan.

Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat akibat saling tuduh dan ancaman penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar dua puluh persen pasokan minyak dan gas global.

Lalu lintas maritim di wilayah tersebut terganggu setelah serangan yang dikaitkan dengan Israel dan Amerika Serikat memicu respons dari Iran.

Sebelumnya, Trump membatalkan kunjungan dua utusannya ke Pakistan, langkah yang dianggap sebagai pukulan bagi upaya perdamaian regional.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt sempat menyebut adanya sedikit kemajuan dalam diplomasi, namun pembatalan tersebut menunjukkan masih besarnya hambatan.

Meskipun demikian, pintu dialog antara AS dan Iran belum sepenuhnya tertutup.

Kedua negara masih mempertimbangkan kelanjutan pembicaraan, termasuk potensi pertemuan lanjutan dalam waktu dekat.

Namun, dengan situasi yang masih penuh ketidakpastian, prospek perdamaian jangka pendek tetap rapuh.

Dampak dari konflik ini terus dirasakan oleh pasar energi global dan stabilitas kawasan Timur Tengah pada tahun 2026.

Related Post