Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan mengubah wajah pasar kerja secara signifikan.
Menurutnya, AI tidak hanya berpotensi menghilangkan pekerjaan, tetapi juga mengubah tugas-tugas dalam profesi yang ada.
Ia menyebut pekerjaan seperti administrasi, analisis rutin, layanan pelanggan, akuntansi dasar, dan pemrosesan dokumen rentan terotomatisasi.
Syafruddin mengungkapkan, berdasarkan data OECD, sekitar 27 persen pekerjaan di negara anggota OECD berada dalam risiko tinggi terkena otomatisasi.
Ia menekankan pentingnya langkah cepat pemerintah untuk menyesuaikan sistem pendidikan vokasional dan memperluas pelatihan ulang bagi tenaga kerja.
Perusahaan juga diminta membagi hasil peningkatan produktivitas secara adil agar ketimpangan ekonomi tidak semakin lebar.
‘Jika manfaat AI hanya dinikmati pemilik modal dan pekerja berkeahlian tinggi, ketimpangan pendapatan akan melebar dan stabilitas sosial akan melemah,’ ujarnya pada 26 April 2026.
Selain di pasar tenaga kerja, AI juga berdampak pada stabilitas harga melalui efisiensi produksi dan logistik.
Namun, ia memperingatkan bahwa dominasi perusahaan besar dalam penguasaan data dan algoritma dapat memperkuat konsentrasi pasar dan kekuatan penetapan harga.
Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan persaingan usaha yang sehat, transparansi algoritma, serta perlindungan data dan konsumen.
Bagi Indonesia, AI harus menjadi bagian dari strategi stabilitas makroekonomi di tengah tekanan nilai tukar rupiah, subsidi energi, dan kebutuhan pembiayaan negara.
AI dapat diterapkan untuk memperkuat administrasi perpajakan, memperbaiki sasaran subsidi, mempercepat layanan publik, dan meningkatkan produktivitas UMKM.
‘Pemerintah perlu melihat AI sebagai instrumen reformasi ekonomi, bukan sekadar proyek teknologi,’ tegasnya.
Menurut Syafruddin, negara yang sukses mengintegrasikan AI ke sektor produktif akan meraih efisiensi, daya saing, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Sebaliknya, negara yang lambat beradaptasi akan menghadapi pengangguran friksional, ketimpangan baru, dan tekanan sosial.





