Pekerjaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menghadapi ancaman disrupsi akibat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Menurut prediksi World Economic Forum, sebanyak 85 juta pekerjaan diproyeksikan akan hilang karena otomatisasi dan teknologi AI dalam beberapa tahun ke depan.
Ekonom digital dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyatakan bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan administrasi hingga analisis data paling rentan digantikan oleh sistem berbasis AI.
Meski demikian, ia menekankan bahwa di sisi lain terdapat peluang terciptanya 97 juta lapangan kerja baru yang berkaitan erat dengan teknologi, khususnya di bidang pemrograman data dan pengembangan sistem digital.
Huda menilai evolusi ini tidak bisa dihindari dan harus direspons serius, terutama dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia agar mampu bersaing.
Menurutnya, kapasitas SDM teknologi di Indonesia masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand, yang tercermin dari posisi Human Capital Index Indonesia yang lebih rendah.
Akibat keterbatasan tersebut, banyak perusahaan teknologi di Indonesia yang terpaksa merekrut tenaga kerja asing dari Singapura, Malaysia, hingga India untuk memenuhi kebutuhan operasional digital mereka.
Ia menyebut adopsi teknologi digital yang lambat serta kurikulum pendidikan yang belum adaptif menjadi faktor utama keterlambatan pengembangan SDM digital di Tanah Air.
Sudah terjadi disrupsi nyata di sektor perbankan Indonesia, di mana layanan administratif seperti pembukaan dan pemblokiran rekening kini dilakukan secara digital, serta customer service mulai digantikan oleh chatbot berbasis AI.
Huda menegaskan bahwa Indonesia belum siap menghadapi gelombang transformasi ini meskipun dampaknya sudah mulai terasa di berbagai sektor ekonomi.
Dua raksasa teknologi global, Meta Platforms dan Microsoft, baru-baru ini melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan merumahkan karyawan dan menawarkan pensiun dini sukarela untuk fokus berinvestasi di bidang kecerdasan buatan.
Berdasarkan memo internal pada Kamis (23/4/2026), Meta berencana memangkas sekitar 10 persen dari total tenaga kerjanya secara global.
Dengan jumlah karyawan sebanyak 78.865 orang per 31 Desember 2025, langkah ini diperkirakan akan berdampak pada sekitar 8.000 pekerja.





