PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencatat laba bersih sebesar Rp5,6 triliun pada kuartal I 2026.
Capaian ini didorong oleh pertumbuhan bisnis yang sehat, peningkatan pendapatan bunga bersih, serta kontribusi kuat dari pendapatan nonbunga.
Pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) mencapai 12,1 persen year on year (yoy) berkat struktur pendanaan yang solid dan ekspansi kredit yang sehat.
Pendapatan nonbunga juga tumbuh 12,6 persen yoy, terutama didukung oleh fee based income dari transaksi melalui platform digital atau e-channel.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyatakan bahwa kombinasi pertumbuhan bisnis, pendapatan bunga dan nonbunga, serta kualitas aset yang resilien menjadi kunci kinerja positif tersebut.
Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) pun mencapai Rp9,3 triliun, menjadi yang tertinggi untuk periode kuartal I dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Di sisi intermediasi, penyaluran kredit BNI mencapai Rp919,3 triliun pada Maret 2026, tumbuh 20,1 persen yoy, dengan pertumbuhan seimbang di segmen business banking dan konsumer ritel.
Kualitas aset membaik dengan rasio non-performing loan (NPL) turun menjadi 1,9 persen, loan at risk di level 8,6 persen, dan credit cost tercatat 1,1 persen sesuai guidance perusahaan.
Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi penopang utama kinerja, dengan pertumbuhan CASA mencapai 26,6 persen yoy menjadi Rp731,6 triliun pada Maret 2026, didorong oleh pertumbuhan giro sebesar 39,7 persen yoy dan tabungan 10,4 persen yoy.
Fundamental keuangan BNI tetap kuat dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 83,5 persen dan rasio KPMM di level 18,5 persen, jauh di atas ketentuan regulator.
Paolo menegaskan bahwa kinerja ini mencerminkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin.





