Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti LPG di sektor rumah tangga memiliki tantangan teknis dan ekonomi yang sangat besar.
Menurutnya, penerapan DME di rumah tangga membutuhkan perubahan infrastruktur yang masif dan mahal karena karakteristik tekanannya berbeda dari LPG.
Komaidi menjelaskan bahwa DME memerlukan tabung, regulator, dan kompor khusus yang tidak kompatibel dengan peralatan memasak yang sudah digunakan masyarakat saat ini.
Ia menekankan bahwa secara bisnis, DME jauh lebih masuk akal jika dialokasikan untuk sektor industri yang memiliki skala penggunaan lebih besar dan keekonomian lebih tinggi.
Komaidi mencatat bahwa mundurnya Air Products dari proyek DME di Indonesia menjadi indikator bahwa biaya produksi DME masih lebih mahal dibanding LPG.
Ia menyarankan pemerintah memetakan ulang segmentasi pengguna DME dengan meniru pengalaman China dan India yang memanfaatkan DME untuk sektor industri dan transportasi.
Untuk rumah tangga, distribusi DME dinilai sangat sulit karena jumlah pengguna yang mencapai puluhan juta dengan konsumsi per kapita yang kecil.
Komaidi memperingatkan agar proyek DME tidak hanya menjadi simbol prestasi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan bisnis dan beban yang mungkin ditanggung negara serta konsumen.
Ia menegaskan bahwa tanpa intervensi pemerintah, penggunaan DME di rumah tangga tidak akan berkembang secara komersial.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan mendorong DME sebagai upaya diversifikasi pasokan LPG dan mengurangi ketergantungan impor.
Indonesia memiliki cadangan batu bara low rank coal yang melimpah, yang dapat dimanfaatkan untuk produksi DME guna menutup kesenjangan impor LPG sekitar 7 juta ton per tahun.
Saat ini, konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya 1,6 hingga 1,7 juta ton.
Bahlil menyebut DME sebagai salah satu alternatif terbaik untuk mencapai kemandirian energi di sektor LPG.





