Iran Tegaskan Konflik dengan AS Belum Berakhir Meski Gencatan Senjata Berlaku

Ardian Santo

May 1, 2026

2
Min Read

Iran menyatakan bahwa konflik dengan Amerika Serikat belum berakhir meskipun gencatan senjata telah diberlakukan.

Juru Bicara Militer Iran, Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa pihaknya tidak menganggap perang telah selesai karena belum adanya kesepakatan damai dari Washington.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ketegangan yang masih tinggi antara kedua negara pada tahun 2026.

Akraminia menekankan bahwa Iran tetap dalam kondisi siaga militer penuh dan terus memperbarui daftar target potensial.

Ia menyebut bahwa militer Iran masih bertindak sebagaimana dalam masa perang, termasuk melakukan latihan tempur dan modernisasi alat pertahanan.

Pengalaman dari konflik sebelumnya digunakan untuk meningkatkan kemampuan menangkis serangan dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Bagi Iran, situasi saat ini tetap dipandang sebagai masa perang, sehingga kewaspadaan terhadap manuver militer AS dan sekutu terus ditingkatkan.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran berjalan sesuai rencana dari Washington.

Trump menegaskan bahwa isu program nuklir Iran harus menjadi prioritas utama dalam setiap negosiasi damai.

Ini bertentangan dengan proposal Iran yang ingin menunda pembahasan nuklir hingga isu keamanan Selat Hormuz dan blokade maritim selesai.

Iran mengusulkan tahapan negosiasi dimulai dari penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis distribusi energi global.

Setelah itu, Teheran ingin pembahasan dilanjutkan ke hak Iran atas pengayaan uranium untuk tujuan damai.

Namun, AS menolak pendekatan bertahap tersebut dan menuntut program nuklir menjadi bagian utama dari kesepakatan sejak awal.

Ketidakpercayaan antara kedua pihak membuat gencatan senjata yang berlaku dinilai rapuh dan berpotensi memicu eskalasi baru.

Peningkatan kapasitas militer oleh Iran menjadi sinyal bahwa konflik bisa kembali memanas kapan saja.

Sementara itu, tekanan ekonomi dari sanksi AS dilaporkan masih memberatkan Iran dengan kerugian mencapai 170 juta dolar AS per hari.

Dengan posisi yang masih kaku dari kedua belah pihak, prospek perdamaian permanen dinilai masih jauh dari tercapai.

Related Post