Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran menyusul belum berakhirnya ketegangan antara kedua negara di kawasan Timur Tengah.
Tekanan ini dilakukan sebagai bagian dari kampanye yang dikenal sebagai ‘Economic Fury’ yang bertujuan melemahkan jaringan ekonomi Teheran.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa pihaknya telah menargetkan infrastruktur perbankan bayangan internasional, akses ke aset kripto, armada kapal bayangan, dan jaringan pengadaan senjata Iran.
Langkah tersebut juga ditujukan untuk memutus aliran dana ke kelompok proksi serta kilang minyak independen yang mendukung perdagangan minyak Iran.
Bessent mengklaim kebijakan ini telah mengganggu puluhan miliar dolar pendapatan yang sebelumnya mengalir ke pemerintah Iran.
Dampaknya, inflasi di Iran meningkat dua kali lipat dan nilai mata uangnya melemah tajam, menurut pernyataan Bessent.
AS juga memberlakukan blokade pelabuhan yang menghambat ekspor minyak Iran, sehingga terminal ekspor utama negara tersebut kini mendekati kapasitas penyimpanan maksimum.
Kondisi ini, kata Bessent, memaksa Iran mengurangi produksi minyak dan menimbulkan kerugian sekitar 170 juta dolar AS per hari.
Blokade juga berpotensi menyebabkan kerusakan permanen pada infrastruktur minyak Iran.
Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari strategi ‘maximum pressure’ yang digagas pemerintahan AS untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan dengan syarat yang ditentukan Washington.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran berada dalam ‘kondisi kolaps’ dan telah meminta AS membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Trump tidak merinci bagaimana komunikasi tersebut disampaikan, sehingga jalur diplomasi yang digunakan belum dapat dikonfirmasi.
Saat ini, belum ada tanda-tanda dimulainya kembali negosiasi damai antara kedua negara.
Trump dilaporkan tidak puas dengan proposal baru dari Iran yang menunda pembahasan program nuklir hingga konflik berakhir dan blokade laut dicabut.
Menurut proposal Iran, isu keamanan dan pelayaran di Selat Hormuz harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum membahas program nuklir, termasuk tuntutan hak memperkaya uranium untuk tujuan damai.
Washington bersikeras bahwa isu nuklir harus menjadi bagian utama dari negosiasi sejak awal dan menjadi prasyarat dalam setiap kesepakatan.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi distribusi energi global yang saat ini terganggu akibat konflik antara Iran dan AS.





