Kalsel Pertahankan Stabilitas Pangan di Triwulan I/2026 Meski Hadapi Tekanan Inflasi

Ardian Santo

May 1, 2026

2
Min Read

Ketahanan pangan Kalimantan Selatan (Kalsel) menunjukkan stabilitas pada triwulan I/2026 meskipun terjadi tekanan inflasi nasional.

Stabilitas ini tercermin dari inflasi yang terkendali dan peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) di daerah tersebut.

Pemerintah daerah Kalsel berhasil menjaga keseimbangan antara harga pangan di tingkat konsumen dan kesejahteraan petani melalui intervensi pasokan, distribusi, serta penguatan sistem pangan.

Data menunjukkan inflasi bulanan di Kalsel berada pada 0,2 persen pada Januari 2026, meningkat menjadi 0,86 persen pada Februari, lalu melandai ke 0,5 persen pada Maret.

Gejolak harga yang terjadi tetap berada dalam koridor terkendali berkat langkah-langkah pemerintah seperti Gerakan Pasar Murah dan penguatan logistik antarwilayah.

Daya beli masyarakat relatif terjaga meskipun terjadi kenaikan harga pada periode hari besar keagamaan, yang tidak berlangsung lama maupun ekstrem.

Di sisi produsen, NTP Kalsel meningkat dari 121,1 pada awal triwulan I/2026 menjadi 124,74, dan mencapai 126,53 pada Maret 2026.

Kenaikan NTP ini menunjukkan bahwa petani masih memperoleh margin keuntungan meskipun menghadapi dinamika harga pangan.

Kalsel juga meraih peringkat pertama nasional dalam Indeks Ketahanan Pangan 2025 dengan skor 81,98, didukung surplus beras sekitar 1,2 juta ton.

Surplus tersebut memperkuat posisi Kalsel sebagai salah satu lumbung pangan utama di regional Kalimantan.

Gubernur Kalsel H. Muhidin menyatakan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga keterjangkauan dan keberlanjutan produksi.

Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kesejahteraan petani dan harga pangan yang terjangkau bagi masyarakat.

Penguatan ketahanan pangan dilakukan melalui hilirisasi dan diversifikasi komoditas, termasuk pengembangan beras khusus dan pengolahan singkong menjadi beras analog.

Diversifikasi hortikultura juga berhasil, dengan produksi cabai besar mencapai lebih dari 11 ribu ton dan cabai rawit sekitar 14 ribu ton pada 2025.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman, menyebut pentingnya nilai tambah dari hasil pertanian agar petani mendapat manfaat ekonomi lebih besar.

Pemerintah daerah juga merehabilitasi lima unit lumbung pangan pada 2025, sehingga kini terdapat 175 unit yang difokuskan pada manajemen stok dan distribusi.

Lumbung pangan berperan sebagai cadangan strategis untuk menjaga ketersediaan dan menstabilkan harga di tingkat lokal.

Produksi padi Kalsel mencapai 1,18 juta ton pada 2025 dengan surplus 1,2 juta ton, meningkat hampir 15 persen, dan naik menjadi 1,3 juta ton pada 2026 meskipun menghadapi kemarau panjang.

Pengembangan komoditas baru seperti porang dilakukan di lahan seluas 127 hektare pada 2026 dengan dukungan fasilitas pengolahan untuk menjamin pasar bagi petani.

Pemerintah juga memperkuat digitalisasi melalui portal Satu Data Pangan yang mengintegrasikan data produksi, harga, distribusi, dan stok.

Sistem ini mendukung pengambilan kebijakan pangan yang cepat, akurat, dan berbasis data.

Syamsir Rahman menegaskan bahwa ketahanan pangan harus menjadi sistem yang hidup, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Related Post