Pemimpin Jasa Keuangan Didesak Adaptasi dengan AI demi Keberlanjutan Bisnis

Ardian Santo

May 1, 2026

3
Min Read

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan percepatan transformasi digital, kepemimpinan strategis di sektor jasa keuangan menjadi kunci utama dalam menjaga pertumbuhan dan stabilitas.

Pemimpin industri jasa keuangan tidak hanya dituntut mampu mengelola institusi, tetapi juga merancang ekosistem keuangan nasional yang inklusif, efisien, dan berkelanjutan.

International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,3% pada periode 2025–2026, membuka ruang bagi sektor keuangan untuk tetap berkembang meski menghadapi tekanan global.

Di Indonesia, sektor jasa keuangan menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan kredit perbankan sekitar 9–10% pada akhir 2025, rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di kisaran 2%, dan dana pihak ketiga (DPK) meningkat hampir 14%.

Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan juga tetap kuat di atas 25%, sementara industri asuransi dan dana pensiun mencatat total aset masing-masing lebih dari Rp1.200 triliun dan Rp1.600 triliun.

Industri pembiayaan dan pinjaman daring berkembang pesat dengan risiko terkendali, serta transaksi kripto di 2025 menembus lebih dari Rp480 triliun, menandai percepatan adopsi keuangan digital.

Meski demikian, sektor ini menghadapi tantangan serius seperti risiko siber, kesenjangan literasi dan inklusi keuangan, serta kompleksitas penerapan teknologi baru seperti artificial intelligence (AI).

CEO Warta Ekonomi Muhamad Ihsan menegaskan bahwa pemimpin di sektor jasa keuangan kini berperan sebagai arsitek masa depan ekosistem keuangan nasional.

“Pemimpin di industri jasa keuangan bukan sekadar pengelola institusi, tetapi arsitek masa depan ekosistem keuangan nasional,” ujarnya dalam ajang Indonesia Financial Top Leader Award 2026, Rabu (29/4/2026).

Wakil Ketua Dewan Pengawasan BPI Danantara dan mantan Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad, menilai adopsi AI bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis untuk kelangsungan bisnis.

“AI bukan hanya sekadar tren, tetapi sudah menjadi kebutuhan strategis dalam menentukan kelangsungan bisnis,” kata Muliaman.

Ia menekankan bahwa implementasi AI harus dilakukan secara terukur dengan fondasi kesiapan infrastruktur data dan rencana strategis yang matang.

“Keputusan untuk mengadopsi AI sangat ditentukan oleh strategic roadmap dan kesiapan data infrastructure,” tambahnya.

Transformasi berbasis teknologi mendorong perubahan model bisnis dari pendekatan berbasis produk menjadi solusi terintegrasi yang personal, cepat, dan berbasis data.

Kolaborasi lintas sektor pun semakin penting, dengan bank dan lembaga keuangan dituntut membangun ekosistem terbuka melalui integrasi platform digital dan pemanfaatan API serta analisis data.

Kesiapan internal seperti infrastruktur, sumber daya manusia, tata kelola, dan manajemen risiko tetap menjadi tantangan utama dalam proses transformasi ini.

Sebagai bentuk apresiasi atas kepemimpinan strategis, Warta Ekonomi memberikan penghargaan Indonesia Financial Top Leader Award (IFTL) 2026 kepada sejumlah pemimpin di berbagai sektor jasa keuangan.

Penghargaan ini menegaskan pentingnya peran pemimpin dalam merancang ekosistem keuangan yang adaptif di tengah dinamika global dan digitalisasi yang pesat.

Beberapa penerima penghargaan antara lain Meri Ui dari PT Atome Finance Indonesia, Lanny Budiati dari PT Bank Digital BCA (Blu), Petrus Santoso Karim dari PT BCA Finance, dan Rony Hanityo Aprianto dari PT TASPEN (Persero).

Pemimpin lain yang menerima penghargaan termasuk Juliati Boddhiya dari PT Asuransi Central Asia, Denny Dilham dari PT Mitsui Leasing Capital Indonesia, serta Afifa dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Related Post