Ekspor Sawit Anjlok 30 Persen pada Maret 2026 Akibat Eskalasi Perang Global

Ardian Santo

May 1, 2026

2
Min Read

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat penurunan ekspor kelapa sawit nasional sebesar 30 persen pada Maret 2026 dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan tersebut dipicu oleh eskalasi konflik global yang mengganggu rantai pasok dan menyebabkan lonjakan biaya pengapalan internasional.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyatakan bahwa kenaikan biaya pengiriman terutama terjadi pada komponen Cost Insurance and Freight (CIF) yang melonjak hingga 50 persen.

Armada pengangkut minyak sawit ke Eropa terpaksa mengambil rute memutar melalui Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika untuk menghindari zona konflik.

Rute alternatif ini memperpanjang waktu pengiriman dan menaikkan ongkos logistik secara signifikan.

Eddy menjelaskan bahwa kenaikan biaya tersebut membuat banyak importir menunda pembelian, sehingga permintaan ekspor turun tajam.

Penurunan ekspor ini berdampak langsung pada pasokan minyak goreng domestik melalui skema Domestic Market Obligation (DMO).

Kuota DMO nasional turun dari 1,9 juta ton menjadi hanya 1 juta ton, atau berkurang 900 ribu ton.

Eddy menegaskan bahwa penurunan DMO bukan karena perusahaan enggan memasok pasar dalam negeri, melainkan konsekuensi otomatis dari penurunan ekspor yang diatur pemerintah.

Di sisi produksi, industri sawit mencatatkan peningkatan output hingga Februari 2026 sebesar 10,73 juta ton untuk CPO dan PKO, naik dari 8,32 juta ton pada periode yang sama di 2025.

Namun kenaikan produksi ini dibarengi dengan melonjaknya biaya operasional perkebunan.

Harga pupuk naik hingga 30 persen, sementara harga BBM industri untuk operasional perkebunan melonjak dari Rp15.000 menjadi Rp29.000–Rp30.000 per liter.

Meski harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani relatif tinggi di kisaran Rp4.000 per kilogram, Eddy mengingatkan risiko penurunan produktivitas tahun depan jika biaya input terus membengkak.

Ia khawatir petani akan mengurangi dosis pemupukan akibat mahalnya harga, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan tanaman dan produksi masa depan.

Indonesia saat ini menguasai 57,49 persen produksi kelapa sawit dunia dan menyumbang 50,05 persen ekspor global, menurut data Oil World 2025.

Negara ini juga menjadi konsumen minyak sawit terbesar di dunia dengan porsi 27,54 persen.

Related Post