Kementerian Pertanian (Kementan) meminta perusahaan pengolahan kelapa sawit segera menaikkan harga pembelian tandan buah segar (TBS) dari petani setelah ditemukan adanya penurunan harga yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai penurunan harga TBS saat ini merupakan sebuah anomali. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah justru seharusnya memberikan keuntungan lebih besar bagi komoditas ekspor seperti kelapa sawit sehingga harga di tingkat petani semestinya ikut meningkat.
Untuk membahas persoalan tersebut, Kementan menggelar rapat koordinasi bersama petani, perusahaan, asosiasi, dan eksportir sawit di Jakarta pada Senin (8/6/2026).
Dalam pertemuan itu, seluruh pihak disebut telah menyepakati pemulihan harga TBS agar kembali ke level sebelumnya, bahkan berpotensi naik lebih tinggi.
“Semua sepakat harga tidak boleh turun dan harus kembali seperti semula. Bahkan jika memungkinkan, naik lebih tinggi,” ujar Amran usai rapat.
Amran menjelaskan bahwa dengan nilai tukar dolar AS yang mendekati Rp18.000 per dolar, pelaku usaha sawit berorientasi ekspor memperoleh tambahan keuntungan dari selisih kurs. Oleh sebab itu, harga pembelian TBS kepada petani dinilai layak mengalami kenaikan sekitar 10 persen.
Ia memperkirakan sekitar 15 juta petani sawit dapat dirugikan apabila perusahaan belum melakukan penyesuaian harga sesuai kondisi pasar saat ini.
Kementan juga mencatat masih terdapat sekitar 270 hingga 300 perusahaan yang belum menaikkan harga pembelian TBS. Pemerintah akan menyampaikan data tersebut kepada aparat penegak hukum untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut Amran, langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga kesejahteraan petani sawit sekaligus memastikan manfaat dari tingginya nilai ekspor dapat dirasakan hingga tingkat produsen.
Selain membahas harga TBS, Amran juga kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak melalui pemanfaatan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai sumber energi alternatif.
Ia menyebut pemerintah tengah mendorong pengembangan teknologi pengolahan CPO menjadi bensin bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Saat ini Indonesia telah menerapkan program mandatori B40 yang merupakan campuran 40 persen biodiesel berbasis sawit dan 60 persen solar. Program tersebut diklaim mampu menekan impor solar hingga sekitar 5 juta ton setiap tahun.
Ke depan, pemerintah menargetkan pemanfaatan sawit sebagai bahan baku energi dapat semakin ditingkatkan guna memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas sawit dalam negeri.





