GAPKI Jelaskan Kelangkaan Minyakita Dipicu Penurunan Ekspor Sawit 30 Persen

Ardian Santo

May 1, 2026

2
Min Read

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menjelaskan kelangkaan minyak goreng program pemerintah, Minyakita, di sejumlah daerah pada Maret 2026 disebabkan penurunan ekspor kelapa sawit sebesar 30 persen akibat disrupsi geopolitik global.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyatakan penurunan ekspor tersebut berdampak langsung pada realisasi kewajiban pasok domestik atau Domestic Market Obligation (DMO), yang turun dari 1,9 juta ton menjadi 1 juta ton.

Penjelasan ini disampaikan Eddy di Jakarta pada Kamis (30/4/2026), sebagai respons atas kekhawatiran publik terkait kelangkaan dan kenaikan harga Minyakita di pasar domestik.

Eddy menegaskan bahwa para eksportir tidak mengabaikan pasar dalam negeri demi mengejar keuntungan dari harga global yang tinggi, karena seluruh ekspor dan DMO diatur secara ketat oleh mekanisme regulasi pemerintah.

“Yang saya mau sampaikan di sini adalah jangan sampai nanti ada kesan bahwa dengan harga tinggi kemudian perusahaan-perusahaan eksportir tuh maunya ekspor tidak mau melayani dalam negeri,” ujar Eddy.

Penurunan ekspor disebabkan melonjaknya biaya logistik (Cost Insurance and Freight/CIF) hingga 50 persen akibat konflik geopolitik, yang membuat sejumlah importir global menunda pembelian.

Berkurangnya permintaan ekspor menyebabkan produksi ekspor nasional turun, sehingga kuota DMO yang menjadi syarat ekspor juga ikut berkurang secara otomatis.

Hingga Februari 2026, total konsumsi minyak sawit domestik mencapai 4,4 juta ton, dengan sektor pangan menyerap 1,83 juta ton dan sektor biodiesel 2,21 juta ton.

Produksi CPO dan PKO nasional pada periode yang sama tercatat sebesar 10,73 juta ton, menjadikan Indonesia tetap sebagai produsen dan konsumen minyak sawit terbesar dunia dengan pangsa produksi global 57,49 persen.

Related Post