Kelompok Houthi Yaman mengecam tindakan Amerika Serikat di Selat Hormuz, menyebut blokade dan pembajakan kapal komersial dari Iran sebagai pelanggaran hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Houthi menyatakan bahwa aksi tersebut telah memaksa dunia membayar harga mahal dalam bentuk gangguan rantai pasok global.
Mereka menilai serangan terhadap kapal komersial dan penahanan awak kapal melanggar prinsip hukum maritim internasional yang mengatur kebebasan navigasi.
Houthi menyebut kenaikan harga pangan dan lonjakan harga energi sebagai dampak langsung dari eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz.
Kelompok tersebut menyatakan dukungan terhadap pembatasan navigasi oleh Iran di Selat Hormuz sebagai bentuk hak membela diri dan menjaga keamanan wilayah nasional.
“Yaman tidak netral terhadap serangan yang sedang berlangsung terhadap Iran, Lebanon, dan Palestina,” demikian pernyataan resmi Houthi.
Houthi sebelumnya memperingatkan akan memberlakukan biaya atau bahkan menutup jalur pelayaran di Selat Bab al-Mandeb sebagai langkah balasan.
Penutupan Selat Bab al-Mandeb dapat mengganggu jalur perdagangan global yang vital, termasuk distribusi minyak mentah dan barang-barang strategis.
Manuver Houthi dilakukan sebagai respons terhadap agresi militer yang mereka klaim berasal dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Kelompok bersenjata ini juga telah meluncurkan rudal ke arah Israel sebagai bagian dari solidaritas terhadap Iran dalam konflik regional.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Iran meminta AS untuk membuka kembali akses di Selat Hormuz.
Trump menyatakan bahwa Iran berada dalam kondisi “kolaps” dan ingin blokade dicabut sebagai bagian dari upaya menstabilkan kepemimpinan dalam negeri.
Trump tidak menjelaskan secara rinci bagaimana pesan dari Iran disampaikan, sehingga jalur komunikasi antara kedua negara masih belum jelas.
Saat ini, tidak ada indikasi negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat akan segera dilanjutkan.
Trump dilaporkan tidak puas dengan proposal Iran karena tidak menyentuh isu utama program nuklir negara tersebut.
Proposal Iran mencakup penundaan pembahasan nuklir hingga konflik berakhir, serta penyelesaian isu blokade dan pelayaran di Selat Hormuz.
Tahap pertama proposal mencakup penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur kritis bagi distribusi energi global.
Iran ingin pembahasan program nuklir, termasuk hak memperkaya uranium untuk tujuan damai, dibahas setelah isu keamanan laut diselesaikan.
Washington bersikeras bahwa isu nuklir harus menjadi bagian utama dari negosiasi sejak awal dan menjadi syarat pokok dalam setiap kesepakatan.





