Iran Ajukan Proposal Damai ke Amerika Serikat Melalui Pakistan

Ardian Santo

April 28, 2026

2
Min Read

Iran telah mengajukan proposal damai baru kepada Amerika Serikat yang mencakup penghentian konflik, pembahasan program nuklir, dan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya meredakan ketegangan antara kedua negara yang telah berlangsung lama di kawasan Timur Tengah.

Proposal tersebut disampaikan melalui mediator dari Pakistan, menunjukkan peran negara ketiga dalam proses diplomasi sensitif ini.

Menurut laporan Axios, salah satu poin utama dalam proposal adalah perpanjangan gencatan senjata sementara untuk memberi waktu bagi kedua pihak mencapai kesepakatan damai permanen.

Pembahasan terkait program nuklir Iran akan dilanjutkan setelah Amerika Serikat mencabut blokade ekonomi yang selama ini diberlakukan.

Juru Bicara Gedung Putih, Olivia Wales, mengonfirmasi bahwa proposal tersebut telah diterima dan akan dibahas dalam pertemuan internal.

Ia menekankan bahwa diskusi ini bersifat sangat sensitif dan tidak dapat dibuka secara publik.

Kami tidak akan bernegosiasi melalui pers, ujar Wales.

Amerika Serikat memegang kendali dan hanya akan menyetujui kesepakatan yang mengutamakan kepentingan rakyat AS serta mencegah Iran memiliki senjata nuklir, tegasnya.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump menyatakan kesiapan Amerika Serikat untuk berdialog langsung dengan Iran jika pihak Teheran ingin mengakhiri konflik.

Trump menyebut bahwa saluran komunikasi aman tersedia dan Iran bisa menghubungi pihaknya kapan saja.

Namun, ia membatalkan rencana kunjungan dua utusannya ke kawasan karena dinilai terlalu mahal, rumit, dan tawaran Iran belum cukup meyakinkan.

Kami membatalkan kunjungan karena terlalu banyak perjalanan dan biaya, serta tawaran mereka tidak cukup baik, kata Trump.

Meskipun belum ada keputusan resmi, proposal ini menjadi sinyal penting adanya kemauan politik dari Iran untuk membuka jalan diplomatik.

Dampak dari perkembangan ini bisa luas, baik terhadap stabilitas keamanan regional maupun terhadap perekonomian global, terutama di sektor energi.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia, sehingga pembukaannya kembali akan berpengaruh pada harga minyak internasional.

Arah negosiasi selanjutnya akan menjadi penentu apakah ketegangan di Timur Tengah bisa diredakan atau justru memburuk di tahun 2026.

Related Post