Menaker Yassierli: Lulusan Perguruan Tinggi Harus Kuasai AI dan Triple Readiness untuk Bersaing di Dunia Kerja

Ardian Santo

April 28, 2026

2
Min Read

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan pentingnya penguasaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bagi lulusan perguruan tinggi di Indonesia.

Hal ini disampaikannya berdasarkan hasil survei yang menunjukkan hampir 70 persen pemimpin bisnis di Indonesia tidak akan merekrut kandidat yang tidak memiliki kemampuan dasar terkait AI.

Yassierli menyebut permintaan tenaga kerja dengan keterampilan AI di Asia Tenggara meningkat hingga 2,4 kali lipat dalam lima tahun terakhir.

Ia menegaskan bahwa saat ini industri lebih mencari keterampilan nyata daripada gelar akademik, dengan peningkatan empat kali lipat jumlah lowongan kerja yang mengutamakan kompetensi dibanding ijazah dalam satu dekade terakhir.

Menurutnya, ijazah tidak lagi menjadi jaminan utama untuk sukses di pasar kerja global yang semakin dinamis dan dipengaruhi disrupsi teknologi.

Untuk itu, ia mendorong lulusan perguruan tinggi membekali diri dengan strategi Triple Readiness guna menghadapi perubahan dunia kerja.

Triple Readiness mencakup kesiapan teknis digital, kesiapan keterampilan manusia (human skills), dan kesiapan memasuki pasar kerja (market entry readiness).

Yassierli mengutip data LinkedIn yang menyebut 80 persen jenis pekerjaan saat ini belum ada 20 tahun lalu, dan sekitar 50 persen pekerjaan saat ini diprediksi tidak relevan dalam 10 tahun ke depan.

Ia juga menyampaikan bahwa kesenjangan keterampilan digital (digital skill gap) masih besar, dengan hanya 27 persen pekerja Indonesia yang memiliki keterampilan digital, jauh di bawah standar global sebesar 60 hingga 70 persen.

Meski demikian, perubahan ini membuka peluang ekonomi baru seperti green economy, digital platform, dan care economy yang harus dimanfaatkan generasi muda.

Lulusan diminta menguasai advanced digital skills dan green jobs, serta tidak cukup hanya mampu menggunakan media sosial sebagai representasi keterampilan digital.

Kesiapan human skills meliputi kemampuan berpikir kritis, empati, kepemimpinan, dan kreativitas yang tetap menjadi nilai lebih meskipun AI semakin dominan.

“AI tidak akan bekerja optimal tanpa sentuhan manusia,” kata Yassierli, menekankan pentingnya human skills dalam memahami konteks, batasan, dan risiko penggunaan AI.

Kesiapan ketiga, market entry readiness, menuntut lulusan memiliki portofolio kuat, pengalaman magang, dan sertifikasi kompetensi sebagai bukti kapabilitas kepada calon perusahaan.

Seruan ini disampaikan pada 26 April 2026 sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam mempersiapkan tenaga kerja masa depan yang adaptif dan kompetitif.

Related Post