Investor miliarder asal Amerika Serikat, Paul Tudor Jones, menyatakan bahwa bitcoin merupakan aset lindung nilai inflasi terbaik, bahkan lebih unggul dibandingkan emas.
Ia menilai keunggulan utama bitcoin terletak pada jumlah pasokannya yang terbatas secara permanen, yakni maksimal 21 juta koin.
Menurut Jones, keterbatasan pasokan tersebut membuat bitcoin lebih langka secara struktural dibanding emas, yang produksinya terus bertambah setiap tahun.
Ia menyatakan bahwa aset lindung nilai inflasi cenderung menguat saat terjadi pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal besar-besaran.
Likuiditas yang melimpah dari bank sentral dinilai Jones sebagai pendorong utama peluang di pasar aset kripto seperti bitcoin.
“Ketika intervensi besar terjadi, perdagangan berbasis inflasi akan meningkat,” ujar Jones.
Di sisi lain, Jones mengungkapkan pandangan hati-hati terhadap pasar saham, khususnya indeks S&P 500.
Ia memperingatkan bahwa valuasi pasar saham saat ini berada di level tinggi dan berpotensi menghasilkan imbal hasil negatif dalam jangka panjang.
Jones menyoroti meningkatnya jumlah penawaran saham perdana (IPO) dan menurunnya aksi pembelian kembali saham oleh perusahaan sebagai faktor penekan pasar.
Ia mencatat bahwa rasio kapitalisasi pasar saham terhadap produk domestik bruto (PDB) AS kini mencapai sekitar 252 persen, mendekati level ekstrem seperti pada masa sebelum krisis.
Perbandingan historis menunjukkan rasio tersebut pernah mencapai 65 persen pada 1929, 85–90 persen pada 1987, dan 270 persen pada 2000 saat gelembung dotcom.
Menurut Jones, tingginya rasio tersebut mencerminkan leverage yang besar di pasar saham dan berpotensi memicu koreksi besar yang berdampak luas ke ekonomi.
Koreksi pasar dapat mengurangi capital gain, menekan penerimaan pajak, memperbesar defisit anggaran, dan berdampak negatif pada pasar obligasi.
Ia memperingatkan bahwa kondisi ini bisa menciptakan efek berantai negatif dalam sistem keuangan global.
Meski optimistis terhadap bitcoin, Jones tidak menyebut kondisi saat ini sebagai gelembung penuh.
Namun, ia menegaskan bahwa pasar keuangan global sedang menghadapi tekanan dari berbagai sisi, sehingga investor perlu lebih selektif dalam menentukan strategi investasi.
Pandangan Jones memperkuat tren bahwa bitcoin kini semakin dilihat sebagai aset makro global, bukan sekadar instrumen spekulatif.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan potensi inflasi tinggi, bitcoin dinilai menjadi alternatif menarik bagi investor untuk melindungi kekayaan mereka.





