Paus Leo, pemimpin Gereja Katolik, mengecam keras pihak-pihak yang memicu perang serta mengeksploitasi sumber daya alam, menyebut mereka sebagai ‘pencuri’ masa depan yang damai.
Peringatan tersebut disampaikan pada peringatan empat puluh tahun tragedi nuklir Chernobyl, bencana nuklir terburuk dalam sejarah dunia, yang berlangsung pada 26 April 1986.
Paus menekankan bahwa insiden Chernobyl menjadi peringatan abadi atas risiko penggunaan teknologi nuklir yang tidak bertanggung jawab.
Ia mendesak seluruh pemangku kebijakan untuk mengedepankan kebijaksanaan dan tanggung jawab dalam pemanfaatan energi nuklir demi kesejahteraan dan perdamaian manusia.
Menurutnya, ancaman terhadap kemanusiaan tidak hanya datang dari senjata nuklir, tetapi juga dari gaya hidup konsumtif, konflik bersenjata, dan eksploitasi sumber daya bumi secara serakah.
‘Jangan lupa juga para pencuri yang, dengan merampas sumber daya bumi, berperang berdarah, atau menyebarkan kejahatan, telah merampas kesempatan kita untuk masa depan yang damai dan tenteram,’ tegas Paus Leo.
Ia juga menyampaikan keprihatinan atas mandeknya diplomasi damai antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang dinilai memperpanjang penderitaan masyarakat sipil di kawasan Timur Tengah.
‘Suatu hari Iran mengatakan ya, Amerika Serikat mengatakan tidak, dan sebaliknya. Kita tidak tahu ke mana arahnya,’ ujarnya, menggambarkan ketidakpastian proses negosiasi.
Pernyataan ini memperkuat sikap vokal Paus Leo terhadap penolakan perang dalam bentuk apa pun, termasuk intervensi militer dan penggunaan kekuatan oleh negara-negara adidaya.
Sikapnya tersebut sempat memicu ketegangan dengan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya mengkritik pernyataan keagamaan terkait konflik global.
Paus Leo menegaskan bahwa sebagai pemimpin spiritual, ia tidak bisa mendukung kekerasan dan akan terus bersuara demi perdamaian dunia.
‘Sebagai seorang gembala, saya tidak bisa mendukung perang,’ katanya tegas dalam pidato yang disampaikan di Vatikan.
Peringatan ini disampaikan di tengah kekhawatiran meningkatnya potensi konflik nuklir akibat ketegangan geopolitik yang masih berlangsung hingga 2026.
Organisasi internasional dan lembaga kemanusiaan turut mengapresiasi suara moral Paus Leo sebagai upaya penting menjaga kesadaran global terhadap risiko perang modern.





