Aksi penembakan terjadi di tengah acara White House Correspondents’ Dinner yang dihadiri pejabat tinggi Amerika Serikat, jurnalis internasional, dan mantan Presiden Donald Trump pada Minggu, 26 April 2026.
Insiden tersebut memicu kepanikan massal dan evakuasi darurat terhadap seluruh tamu penting yang hadir dalam acara tahunan bergengsi tersebut.
Pelaku penembakan diketahui berusia 31 tahun dan berhasil dilumpuhkan oleh petugas keamanan setelah baku tembak singkat dengan anggota Secret Service.
Satu petugas Secret Service tertembak namun berhasil selamat berkat rompi antipeluru dan kini dalam proses pemulihan di rumah sakit terdekat.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyampaikan kecaman keras atas peristiwa tersebut dan menyebutnya sebagai serangan langsung terhadap institusi demokrasi.
“Saya terkejut dengan kejadian tersebut, dan setiap serangan terhadap institusi demokrasi atau kebebasan pers harus dikecam dengan sekeras-kerasnya,” ujar Starmer, dikutip dari ANADOLU.
Ia juga mengungkapkan rasa lega bahwa Presiden Trump dan para tamu lainnya tidak mengalami luka fisik dalam insiden tersebut.
Wakil Perdana Menteri David Lammy menyebut peristiwa ini sebagai tindakan yang sangat mengerikan dan penghinaan terhadap nilai-nilai demokrasi modern.
Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper menegaskan perlunya solidaritas global dalam menolak segala bentuk kekerasan politik yang merongrong stabilitas demokrasi.
Dari pihak oposisi Inggris, berbagai suara juga menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan refleksi kolektif atas meningkatnya polarisasi politik global.
Donald Trump menggambarkan pelaku sebagai “orang yang sangat sakit” dan menyatakan bahwa serangan ini merupakan bentuk penyerangan terhadap Konstitusi Amerika Serikat.
Trump menambahkan bahwa pelaku membawa lebih dari satu senjata dan bertindak dengan niat jelas untuk menciptakan kekacauan.
Insiden ini membuka kembali diskusi intensif mengenai standar keamanan pada acara publik tingkat tinggi yang melibatkan tokoh politik dan media internasional.
Banyak pihak mulai mempertanyakan efektivitas protokol pengamanan meskipun acara digelar di lokasi strategis dengan pengawalan ketat.
Para analis menilai peristiwa ini menjadi cerminan kerentanan simbol-simbol demokrasi di tengah meningkatnya ketegangan politik global pada tahun 2026.





