Perbedaan dan Gejala Diabetes pada Anak: Deteksi Dini untuk Cegah Komplikasi

Ardian Santo

April 28, 2026

4
Min Read

Diabetes selama ini sering dianggap sebagai penyakit orang dewasa.

Namun kenyataannya, kondisi ini juga dapat terjadi pada anak-anak.

Kasus diabetes pada anak dilaporkan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lain.

Situasi ini kini menjadi perhatian serius karena dampaknya bisa sangat membahayakan jika tidak terdeteksi sejak dini.

Jika tidak ditangani dengan cepat, diabetes pada anak dapat menyebabkan komplikasi yang serius.

Ada dua jenis diabetes yang paling umum terjadi pada anak, yaitu Diabetes Melitus (DM) tipe 1 dan DM tipe 2.

Kedua tipe tersebut memiliki penyebab dan karakteristik yang berbeda.

DM tipe 1 terjadi ketika tubuh anak tidak mampu memproduksi insulin sama sekali atau hanya dalam jumlah sangat kecil.

Kondisi ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang sel penghasil insulin secara keliru, yang dikenal sebagai proses autoimun.

Tanpa cukup insulin, glukosa darah tidak bisa dimanfaatkan sebagai energi dan kadar gula darah pun meningkat.

Sementara itu, DM tipe 2 terjadi ketika tubuh masih memproduksi insulin, tetapi sel-sel tubuh tidak meresponsnya dengan baik.

Kondisi ini dikenal sebagai resistensi insulin.

Meskipun awalnya lebih sering ditemukan pada orang dewasa, DM tipe 2 kini semakin banyak terjadi pada anak dan remaja.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), angka kejadian diabetes pada anak meningkat dalam dua dekade terakhir.

Peningkatan kasus lebih cepat terlihat pada salah satu tipe diabetes.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, DM tipe 1 paling sering ditemukan pada bayi, balita, dan anak usia 5–7 tahun.

Sedangkan DM tipe 2 lebih rentan terjadi pada anak di atas 10 tahun, terutama saat memasuki masa pubertas.

Gejala diabetes pada anak perlu diperhatikan oleh orang tua agar bisa dilakukan deteksi dini.

Gejala diabetes tipe 1 dan tipe 2 pada anak sering kali mirip, sehingga sulit dibedakan.

Salah satu gejala awal adalah frekuensi buang air kecil yang meningkat.

Dalam kondisi normal, bayi buang air kecil setiap 1–3 jam atau sekitar 3–4 kali sehari.

Pada anak usia sekitar 3 tahun, frekuensi bisa mencapai 12 kali sehari, lalu menurun seiring pertambahan usia.

Jika frekuensinya jauh lebih sering, hal ini bisa menjadi tanda waspada.

Kondisi ini bisa terlihat dari popok yang cepat penuh atau anak yang mulai mengompol meski sudah tidak biasa.

Gejala lainnya adalah rasa haus yang berlebihan.

Kondisi ini terjadi karena tubuh kehilangan banyak cairan akibat sering buang air kecil.

Anak akan minum lebih banyak dari biasanya, namun tetap merasa haus meski sudah banyak minum.

Jika disertai muntah atau tanda dehidrasi, kondisi ini harus segera dievaluasi.

Nafsu makan yang meningkat juga bisa menjadi gejala diabetes.

Meskipun terlihat positif, nafsu makan tinggi yang tidak wajar patut dicurigai.

Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak bisa mengolah glukosa menjadi energi akibat kekurangan insulin atau resistensi insulin.

Akibatnya, anak merasa lapar terus-menerus, yang dikenal sebagai polifagia.

Penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas juga perlu diwaspadai.

Terutama jika terjadi bersamaan dengan nafsu makan yang meningkat.

Hal ini terjadi karena tubuh mulai menggunakan cadangan lemak dan otot sebagai sumber energi pengganti.

Nyeri perut bisa menjadi gejala awal diabetes pada anak.

Meskipun terlihat seperti keluhan ringan, nyeri perut yang berulang atau tanpa penyebab jelas sebaiknya tidak diabaikan.

Anak yang tampak lesu, tidak bertenaga, dan mengalami perubahan perilaku juga perlu mendapat perhatian.

Mereka bisa menjadi kurang bersemangat bermain, sulit fokus, dan tidak mampu berkonsentrasi.

Luka yang sulit sembuh juga bisa menjadi indikator diabetes.

Kadar gula darah tinggi menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengganggu proses penyembuhan luka.

Warna kulit yang menghitam, terutama di area lipatan tubuh, juga bisa menjadi tanda.

Kondisi ini dikenal sebagai akantosis nigrikans, yaitu kulit menjadi gelap dan menebal akibat resistensi insulin.

Orang tua disarankan untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami kombinasi gejala-gejala tersebut.

Deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang seperti kerusakan ginjal, gangguan penglihatan, hingga masalah saraf.

Related Post